Sosok

Rohaniwan Khonghucu, Ws Gunadi Prabuki Bahas Soal Mengenang Leluhur


Rohaniwan Khonghucu, Ws Gunadi Prabuki Bahas Soal Mengenang Leluhur
BERITASUMUT.COM/IST

Beritasumut.com-Salam Kebajikan, Wei De Dong Tian. Anggapan merepotan dan banyak aturan untuk orang Tionghoa bukan cuma meyangkut hal persembahyangan, tetapi juga meliputi banyak aspek kehidupannya, termasuk cara memanggil.

Rohaniwan Khonghucu, Ws Gunadi Prabuki dilansir dari Kemenag.go.id, Selasa (08/09/2020) mengatakan, cara memanggil orang Tionghoa kepada seseorang terutama yang berkaitan dengan kekeluargaan mempunyai banyak istilah atau sebutan. Dia menjelaskan, setiap orang dalam keluarga Tionghoa mempunyai sebutan yang berbeda. Maka kemudian orang menggangap ini sebagai sesuatu yang rumit dan merepotkan. Padahal, ketika kita menyebut atau memanggil seseorang dengan sebutan tertentu, maka orang segera menjadi tahu apa hubungan kita dengan orang itu.

"Kita mungkin tak perlu repot memanggil dengan sebutan tertentu kepada orang yang tak bertalian keluarga dengan kita. Namun orang Tionghoa juga tidak mau jika orang yang bertalian keluarga dengan kita, dipanggil dengan sebutan yang sama dengan orang yang tidak bertalian keluarga dengan kita," ujar Ws Gunadi.

Artinya, semua aturan yang kemudian dianggap repot oleh sebagian orang, sebenarnya justru membuat sesuatu itu menjadi simple/sederhana dan jelas. Sebaliknya, orang yang hanya ingin segalanya serba simple maka dia akan menemui kerepotan atau kerumitan-kerumitan setelahnya.

Dao qin sekalian, sambungnya, dalam masalah persembahyang kepada leluhur, bukan hanya dianggap sebagai hal merepotkan, bahkan ada yang berkomentar bahwa hal itu adalah sesuatu yang sia-sia. ”Percuma membahagiakan dan menyenangkan orangtua yang telah meninggal itu. Jika ingin membahagiakan dan menyenangkan Orangtua, lakukanlah ketika mereka masih hidup.” Itulah komentar yang sering kita dengar.

Pertama, pernyataan semacan ini tanpa kita sadari akan berdampak pada semangat mengenang leluhur yang ada dalam ajaran Khonghucu. Mungkin ada positifnya, dan kita tidak memungkiri itu. Bahwa bagi yang orangtuanya masih hidup tentu pernyataan tersebut akan memotivasi orang untuk lebih meningkatkan pelayanan kepada Orangtuanya. Tetapi bagaimana dengan orang yang Orangtuanya sudah tiada? Tentu saja pernyataan semacam itu akan menjadikan mereka merasa percuma mengenang atau membahagiakan orangtua atau leluhur yang telah tiada. Maka hati-hati dengan sebuah pernyataan, karena kata-kata yang sudah lepas, empat ekor kuda tak dapat mengejar.

Kedua, jika usaha menyenangkan membahagiakan orangtua yang telah meningggal dianggap sebagai sesuatu yang sia-sia, maka pertanyaannya adalah, apakah orang yang menyatakan itu sudah cukup membahagiakan orangnya saat orang tuanya masih hidup, sehingga merasa percuma membahagiakan dan menyenangkan orangtua yang sudah meninggal itu? Dan apakah cukup waktu bagi setiap orang untuk merawat, menyenangkan dan membahagiakan orangtuanya sampai batas waktu Orangtuanya tiada?

Dao qin sekalian. Karena kita menyakini ada kehidupan setelah kematian, maka kita tetap berusaha agar mereka bahagia dalam kehidupannya itu. Bahagia maksudnya tenang dan damai dalam kehidupannya di alamnya sana. "Hal penting yang perlu dipahami dalam konteks ini adalah bahwa ketika umat Khonghucu tetap berusaha menyenangkan dan membahagiakan orang yang sudah tiada, bukan berarti bahwa umat Khonghucu tidak melakukan usaha itu ketika Orangtuanya masih hidup," tegasnya.

“Seorang Junzi, waktu (Orangtuanya) hidup, dengan penuh hormat merawatnya; setelah meninggal dunia, dengan penuh hormat menyembahyanginya; dan yang dipikirkan sepanjang hidupnya ialah bagaimana tidak memalukannya. Maka dikatakan, bahwa seorang junzi berkabung sepanjang hidupnya untuk orangtuanya,” sebut Ws Gunadi sembari merujuk Zhongyong bab XVIII Pasal 2.

Kedua, bahwa usaha membahagiakan orangtua yang sudah meninggal itu bukan sekedar menyangkut memberikan sajian makanan pada upacara sembahyang. Makanan yang disajikan itu hanya merupakan simbol dan sebagai ekspresi puncak rasa hormat kita kepada orangtua yang sudah tiada itu. Persembahan yang sesungguhnya adalah perilaku bajik yang tentu diawali degan semangat meneruskan pekerjaan mulia dan melanjutkan harapan mulia orangtua.

Ada pertanyaan sederhana dan cukup logis. Jika persujudan dan laku bajik yang kita lakukan agar orangtua kita mendapat ketenangan dan kedamainan, berarti kita menyakini bahwa orangtua yang meninggal itu belum tenang dan damai? "Dao qin sekalian. Sesungguhnya kita memang tidak tahu akan semua itu. Kita hanya berpikir logis, bahwa bagaimana mungkin orang yang meninggal itu akan serta-merta menjadi tenang dan damai? Sementara tentu masih banyak pekerjaan yang belum selesai dan harapan yang belum terpenuhi. Maka atas dasar pemikiran itulah maka kita terus melakukan persembahyangan untuk mengenang leluhur dan meningkatkan laku bajik agar arwah leluhur tenang dan damai," paparnya.

Sampai kapan itu kita lakukan? Lagi-lagi kita tidak tahu, kapan orangtua tenang dan damai. Karena jika kita mengetahui bahwa Orangtua kita sudah tenang dan damai di alamnya, maka kita akan berhenti bersembahyang dan berhenti meneruskan pekerjaan dan melajutkan harapan mulia Orangtua.

Kesimpulannya, pertama bahwa berbhakti berarti dapat baik-baik melanjutkan cita-cita mulia dan dapat baik-baik meneruskan pekerjaan mulia manusia/Orangtuanya. Kedua, sebagaimana dikatakan Kongzi bahwa “Terhadap orang yang telah mati, bila memperlakukannya benar-benar sama sekali sudah mati, itu tidak berperi Cinta Kasih, maka jangan dilakukan. Terhadap orang yang sudah mati, memperlakukannya seperti benar-benar masih hidup, itu tidak bijaksana dan janganlah dikerjakan."

"Dengan demikian, orang yang mati itu diperlakukan sebagai Shen Ming (makhluk rohani)," pungkas Ws Gunadi merujuk pada Liji II A bagian 3 pasal 3. (BS09)


Tag:Info KemenagMengenang LeluhurRohaniwan KhonghucuWsGunadi Prabuki