Wisata

Pulau Kampai: Kuburan Sang

Pulau Kampai: Kuburan Sang
Beritasumut/(BS02)
Kuburan Pendekar Biola di Pulau Kampai
Beritasumut.com - Pulau Kampai tak hanya menyimpan kuburan panjang nan misterius, tapi juga ada satu kuburan lain yang tak kalah bersejarah. Ya itulah, kuburan Mas Merah atau yang lebih dikenal dengan kuburan Sang "Pendekar' Biola.Bedanya, jika kuburan Panjang masih menyisakan "misteri", kuburan Mas Merah sudah bisa diidentifikasi asalnya.
 
Menurut Buyung, salah seorang warga setempat, kuburan ini adalah kuburan Salam, lelaki yang tinggal di Serawak Malaysia dan lahir sekitar tahun 1890.Salam memiliki abang bernama Amran. Pada saat itu, Salam menjalin hubungan diam-diam dengan gadis bernama Rukiah. Hubungan ini tidak diketahui oleh orangtua Salam. Rukiah adalah seorang gadis baik dan berparas cantik, yang dijodohkan oleh kedua orangtuanya dengan abangnya.
 
Dinikahkanlah Amran dengan Rukiah. Saat pernikahan mereka, Salam putus asa. Konon Salam melemparkan batu sebanyak tiga buah di tanah Serawak sebelum ia pergi. "Kalau timbul tiga buah batu yang ku lempar di tanah Serawak ini, barulah aku akan pulang," ujar Buyung menirukan ucapan Salam.
 
Saat pergi, Salam bertemu dengan Salmah. Salmah adalah kembang di Medan Labuhan-Belawan. Ayah Salmah bernama H Kasim. Ibu Salmah berutang pada seorang keturunan India bernama Tambi. Namun ia tidak mampu membayar utangnya. Oleh orangtuanya, Salmah dikawinkan dengan Tambi.
 
Di saat acara perkawinan Salmah dengan Tambi.Salam yang dijuluki pendekar biola memainkan biolanya sambil menyanyikan sebuah lagu yang berjudul "Kau adalah Mas Merahku".Mendengar lagu ini, Salmah langsung jatuh pingsan. Masyarakat sekitar tidak mengetahui bahwa Salmah adalah Mas Merah yang disebut Salam dalam lagunya. Salam kembali berputus asa dan kemudian pergi ke laut untuk menjadi nelayan di daerah Brandan.
 
Singkat cerita, saat ia dan seorang temannya Husein berkelana di lautan. Salam mendengar teriakan seorang wanita.Salam hendak menolong namun dihalangi oleh Husein. Husein berkata pada Salam, "Aku tidak berani kesana. Daerahnya sangat angker. Biasanya orang yang pergi kesana pasti tidak bisa kembali pulang,".Namun Salam tetap pergi kesana.
 
Ternyata wanita itu adalah Salmah. Terjadilah perkelahian antara Pendekar Nayan dengan Salam. Akhirnya Pendekar Nayan yang menculik Salmah kalah dan bertemulah Salam dengan Salmah.
 
Mereka pun menikah selama sepuluh tahun dan tidak mempunyai keturunan. Suatu hari keduanya terkena penyakit cacar. Pada tahun 1920 tepatnya pada hari Jumat pukul 05.00 pagi Salam meninggal, dan disusul oleh Salmah pada pukul 06.00 pagi. Sebelum meninggal Salam berpesan kepada Husein, temannya, "Kalau nanti aku meninggal tolong kuburkan aku berdekatan dengan kuburan istriku, dan tanamkan bunga tanjung di atas nisan kuburan kami berdua,". 
 
Bunga tanjung yang ditanam adalah kisah perjalanan cinta Salam sebagai tanda antara Semenanjung Malaysia, Medan Labuhan dan Pulau Kampai."Hal itu kemudian diceritakan Husein kepada teman-temannya, dan cerita ini secara turun-temurun dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai sejarah terjadinya Pulau Kampai," pungkas Buyung. (BS02)