Sabtu, 20 April 2019
  • Home
  • Sosok
  • Ini Sosok 5 Peraih Danamon Social Entrepreneur Awards 2015

Ini Sosok 5 Peraih Danamon Social Entrepreneur Awards 2015

Kamis, 08 Oktober 2015 19:36:00
BAGIKAN:
Danamon
Searah jarum jam: Ahmed Tessario, Fajri Mulya Iresha, Yayah Muslihah, Putu Gede Asnawa Dikta, dan Ni Kadek Citra Ekawati.
Beritasumut.com - Berikut sosok lima peraih Danamon Social Entrepreneur Awards 2015, sebagaimana siaran pers Danamon, Kamis (8/10/2015).

1. Ahmed Tessario
Pengembang Teknologi Desa
Pada Tahun 2012 lahan yang digarap seluas 11 ha yang meliputi tiga kecamatan dan dikelola oleh 24 orang petani dimana hasil produksi rata-rata sebanyak 4,4 ton/ha.

Untuk Tahun 2015, program ini sudah berjalan secara swadaya dan sudah berkembang di tujuh kecamatan di Banyuwangi. Produk beras organik yang dihasilkan adalah, beras merah organik, beras putih organik, beras coklat organik, beras merah putih organik, dan beras hitam organik. 

Omzet penjualan yang dicapai ketika memulai program ini sebesar Rp127.500.000 per tahun dan kini pada Tahun 2015 omzet per tahun menjadi Rp1.758.386.500.

Keuntungan yang didapatkan oleh petani yaitu peningkatan pendapatan dari hasil jual panen yang lebih tinggi dan pasti, ilmu pengetahuan yang didapat dari bincang tani yang mengundang pihak universitas dan juga produktivitas lahan yang meningkat seiring pemakaian organik. 

Banyaknya mitra yang kini mendapatkan dampak penjualan sudah ada 36 mitra penjualan di seluruh Indonesia. Program ini merupakan program jangka panjang yang memiliki masa depan yang sangat menjanjikan. 

Produk organik sekarang sudah bukan menjadi barang sekunder di masyarakat akan tetapi sudah menjadi produk primer bagi kalangan masyarakat kelas menengah keatas. Dalam perencanaan ke depan, program ini dibagi menjadi dua aspek, yaitu aspek produksi dan aspek pemasaran. 

Dari aspek produksi program ini menargetkan untuk bekerja sama dengan 300 ha lahan organik dengan masa panen yang diatur untuk mencukupi permintaan pasar pada Tahun 2016. Dari segi pemasaran, program ini menargetkan untuk mendistribusikan produk beras organik ke seluruh Indonesia pada Tahun 2016 dan menginisiasikan ekspor pada pertengahan Tahun 2016.

2. Fajri Mulya Iresha
Memberdayakan Para pemulung dan Kaum Marjinal Dalam Usaha Zero Waste Indonesia
Pemikiran Fajri tentang sampah yang mempunyai  nilai ekonomis kalau bisa dikelola dengan baik sebagai latar belakang dibentuknya kegiatan Zero Waste Indonesia.

Dimulai dengan mengedukasi masyarakat dalam mengumpulkan sampah organik dan non organik kemudian membina bank sampah di sekitaran wilayah Depok, serta kepedulian Fajri terhadap  pemulung dan kaum marjinal untuk turut serta dalam perberdayaan ini.

Zero Waste Indonesia berhasil menanamkan kepedulian dan kesadaran warga untuk mengolah dan memilih sampah di rumah tangga.

Omzet yang didapat dari usaha CV Zero Waste Indonesia mencapai Rp200 juta per bulan dengan kapasitas produksi 1 ton setiap hari. Hasil tersebut dapat menambah peghasilan masyarakat dari kegiatan menabung sampah non organik, serta sebagian hasil tabungan bank sampah mereka di gunakan untuk membangun infrastuktur lingkungan sekitar.

Keberadaan Zero Waste Indonesia berhasil membina sekitar 25 bank sampah yang masing-masing bank sampah melibatkan sekitar 30 kepala keluarga, total masyarakat yang turut bergabung sekitar 500 sampai 750 warga. Zero Waste Indonesia memberdayakan tujuh orang sebagi pekerja, dengan latar belakang mereka ada yang pemulung, pemuda pengangguran, bahkan ada karyawan yang memiliki penyakit kulit yang diasingkan oleh masyarakat, serta ada mantan pemakai narkoba yang coba diberdayakan dengan diberikan mereka tempat tinggal, makan, serta diberikan upah yang layak.

3. Ni Kadek Eka Citrawati
Mendirikan Usaha Lulur Bali Alus
Berawal dari hobi dan  keinginan untuk menjalani filosofi ”kembali ke alam”. Pada Tahun 2000, Kadek menciptakan lulur Bali alus dengan mengembangkan kembali budaya warisan leluhur yang didukung oleh kecanggihan teknologi dan berbekal ilmu informal S1 Design and Beauty Clinic. 

Selain itu  banyaknya warga lokal terutama ibu-ibu rumah tangga yang sulit kerja di luar rumah karena adanya keharusan melakukan upacara yang kadang dilakukan mendadak. Kadek juga ingin mempopulerkan bahan-bahan tradisional untuk perawatan tubuh sehingga dapat membantu peningkatan ekonomi warga sekitar.

Dari modal awal Rp30 juta kini omzet pendapatan dari Bali alus ini sudah mencapai Rp15 juta per hari  dengan total produksi sudah mencapai 400 macam jenis produk dari 150 item yang diproduksi. Saat ini  Ni Kadek telah mendirikan spa academy yaitu sekolah khusus untuk para siswa yang akan mendalami bidang spa secara gratis dan dididik secara profesional yang akan di sebar keseluruh Indonesia dan luar negeri secara berkesinambungan.

Dampak yang dirasakan langsung dapat mengurangi pengangguran masyarakat sekitar rumahnya terutama ibu-ibu rumah tangga. Sekarang Bali alus sudah mempunyai karyawan kurang lebih 100 orang dari warga sekitar pabrik dan sekitar 40 persennya adalah karyawan tetap dan 60 persennya adalah karyawan lepasan karena di Bali banyak yang menganut agama Hindu dengan banyaknya upacara adat dan sembahyang cukup menggangu aktifitas produksi, sehingga karyawan lepasan yang tidak terikat mereka bisa tetap bekerja dan mendapatkan income tambahan.

4. Putu Gede Asnawa Dikta
Mengembangkan Agro Techno Park Salak Sebagai Media Pemberdayaan Masyarakat Petani Salak Desa Sibetan

Putu Gede Asnawa Dikta, pemuda berusia 21 tahun ini melihat potensi yang besar menjadikan Desa Sibetan sebagai Desa Wisata Argo Park Salak, disamping itu keprihatinan Dikta dengan kondisi perekonomian petani yang masih tergolong miskin karena saat musim panen raya harga salak anjlok dan petani dirugikan. 

Terkenal dengan sentra produksi pertanian salak tidak serta merta mampu mengantarkan masyarakat petani salak di Desa Sibetan dapat hidup dengan kualitas yang memadai, merujuk pada tingginya angka kemiskinan di kalangan petani salak, mencapai 24% dari total jumlah penduduk (7.425 jiwa). Data ini dapat dijadikan refleksi bahwa aktivitas ekonomi mayarakat berbasis pada pertanian salak belum memberikan trickle down effect pada hidup dan kehidupan petani salak.

Kelompok warga abian wisata yang diketuai oleh Dikta mengembangkan Desa Sibetan sebagai area tujuan wisata baru dengan membangun area kebun salak yang luas sekitar kurang lebih 1 ha sebagai projek contoh dari total luas 40 ha ladang salak di Kabupaten Karangasem Bali Desa wisata Sibetan yang menawarkan destinasi wisata agro wisata salak. Keberadaan desa wisata salak Sibetan dari Tahun 2012 sedikitnya telah merubah taraf perekonomian masyarakat desa dengan melibatkan sepenuhnya masyarakat dalam mengolah aneka produk kreatif salak, buah dan limbah salak yang kini menjadi pemasukan masyarakat. Warga Desa Sibetan terlibat di pengelolaan baik sebagai guide, pengolah produk salak dan wisata tani. Diperkirakan peningkatan pendapatan masyarakat sekitar 5 sampai 7 persen. Desa wisata Salak Sibetan saat ini dikunjungi oleh wisatawan asing maupun lokal dengan tingkat kunjungan 7 sampai 15 kelompok setiap minggu dengan jumlah setiap kelompoknya bervariasi antara 7 sampai 35 orang.

Harapan kedepannya dari program ini yaitu adanya penghasilan masyarakat minimal setara dengan UMR Kabupaten Karangasem (Rp800.000/bulan) yang sebelumnya hanya rata-rata Rp500.000/bulan (penghasilan kotor). Terwujudnya demplot kawasan agro wisata salak dengan luas 1 km2 yang meliputi bangunan/sentral/poin (kuantitas: satu): ticketing, pusat informasi, kebun eksotis, stan kuliner inovatif, foto session, gubuk relax, stan produk kreanova, dan sentral petik salak sebagai cikal bakal lingkungan industri kreatif. Terwujudnya 2 unit demplot sistem tani terpadu sebagai upaya optimalisasi bibit salak unggul dan sistem pengolaham limbah salak berbasis zero waste. Adanya kesadaran masyarakat dalam upaya melaksanakan program pilotting project agro wisata menuju “Sibetan Agro Techno Park” yang ideal dan terlembaga di desa Sibetan.

5. Yayah Muslihah
Mendirikan Kerajinan Bulu Mata
Yayah Muslihah seorang ibu rumah tangga biasa, pada Tahun 2012 beliau mencoba mencari tambahan penghasilan untuk menjadi pengrajin bulu mata palsu dari pengepul biasa ke perusahaan pengrajin bulu mata yang ada di Kabupaten Purbalingga. Disamping itu Yayah mempunyai tanggungan untuk mengobati penyakit kelainan mata yang dialami anak pertamanya, harus rutin dibawa berobat ke Rumah Sakit Spesialis Mata Cicendo di Kota Bandung. Sehingga ia pun berusaha untuk mencari kerja sambilan untuk mendapatkan uang tambahan. 

Tak lama berselang (kurang lebih 3 bulan berjalan) berkat keseriusan Yayah serta keuletannya di saat menjadi pengepul pengrajin bulu mata tersebut, pimpinan PT Interwork Indonesia menawarkan Yayah Muslihah untuk bekerja sama menjadi mitra dalam mengerjakan bulu mata dari awal proses pengerjaan hingga finishing.

Tawaran tersebut tidak disia-siakan oleh Yayah sehingga terbesit dalam hatinya berkeinginan untuk menciptakan lapangan kerja dan membantu perekonomian di daerah tempatnya tinggal, yaitu di Desa Kedung Wuluh, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga. Saat ini perusahaan pengrajin bulu mata palsu miliknya ini yang telah diberi nama “Yayah Eyeleases” mempunyai 6 orang karyawan tetap yang bekerja di rumahnya. 4 orang tenaga lepasan pengepul dengan setiap pengepul kurang lebih 20 orang yang beranggotanya kebanyakan ibu-ibu rumah tangga dan memperdayakan janda-janda di berbagai titik lokasi di desa. 

Adapun untuk memasarkan produksinya itu Yayah Muslihah selama ini tidak pernah mengalami hambatan karena pihak perusahan telah mengeluarkan pesanan melalui PO (purchase order). Tiga tahun berselang sekarang omzet perusahaan yang telah dirintis oleh Yayah terus merambat naik. Dengan target produksi 1000/pcs per hari sehingga mendapatkan omzet per tahun mencapai Rp180.000.000.

Dengan berbagai cara Yayah lakukan agar seluruh karyawan-karyawannya berikut para pengepul yang bekerja sama dengannya ikut sejahtera. Ke depan Yayah bercita-cita usahanya itu tidak hanya mensub atau sekadar menjadi mitra perusahaan. Tetapi berkeinginan menjadi sebuah perusahan sendiri di Kabupaten Purbalingga dengan otomatis akan menyerap tenaga-tenaga kerja di wilayahnya itu. (BS-001)
T#g:
  komentar Pembaca
  Berita Terkait
  • 4 tahun lalu

    Ini Peraih Danamon Social Entrepreneur Awards 2015

    Beritasumut.com - PT Bank Danamon Indonesia, mengumumkan lima peraih Danamon Social Entrepreneur Awards (DSEA) 2015, yaitu para individu yang membangu

  • Copyright © 2010 - 2019 Portal Berita Sumatera Utara. All Rights Reserved.