Politik & Pemerintahan

SCI 2017, Partisipasi Masyarakat Kunci Sukses Pengelolaan Kota dan Komunitas

SCI 2017, Partisipasi Masyarakat Kunci Sukses Pengelolaan Kota dan Komunitas
BERITASUMUT.COM/IST
Beritasumut.com–Seminar interaktif Strategic Contribution for Indonesia (SCI 2017) yang telah memasuki tahun kelimanya berhasil diadakan di Gedung Michael Sadler, University of Leeds, London, Negara Inggris, sebagai bentuk kontribusi nyata Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Leeds untuk Indonesia. Tujuan utama penyelengaraan acara ini ialah merumuskan rekomendasi kebijakan mengenai pengelolaan kota dan komunitas yang berkelanjutan yang akan diberikan kepada pemerintah dan pihak-pihak terkait.
 
“Indonesia sedang berkembang dan kalian adalah bagian dari perkembangan tersebut. Keberadaan kalian di Inggris serta inisiasi mengadakan acara ini merupakan peran dan kontribusi anak muda yang sangat penting. Segeralah menyelesaikan studi kalian, Indonesia telah memanggil”, ujar Prof E Aminudin Aziz MA PhD selaku Atase Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Indonesia di London yang membuka acara seminar SCI 2017.
 
Hadir sebagai pembicara Gubernur Provinsi Jawa Barat Dr H Ahmad Heryawan Lc MSi, serta Dimas Wisnu Adrianto dari University of Manchester yang sedang melakukan Program Doktoral di bidang pengelolaan kota dan komunitas yang berkelanjutan. Keduanya secara khusus memberikan paparan mengenai perspektif mereka terhadap topik ini.
 
“Saya percaya konsep Kertajati Aerotopolis di daerah Kertajati dengan luas area 3.200 ha bisa membantu Provinsi Jawa Barat untuk bisa memperkuat ekonomi dengan berbagai infrastruktur,” papar Gubernur Jawa Barat melalui siaran pers, Selasa (25/04/2017).
 
Ahmad Heryawan juga menyempatkan diri untuk menjawab pertanyaan dari beberapa peserta mengenai strategi yang sudah dijalankan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam mewujudkan pengelolaan kota serta komunitas yang berkelanjutan serta sejauh apa peran pemerintahan provinsial dalam mengawasi impelementasi program-program tersebut.
 
Selanjutnya, Dimas Wisnu Adrianto yang memberikan paparan dari segi riset dan akademis mengenai bagaimana sebuah kota yang berkelanjutan dapat diukur menggunakan indeks livable city. Indeks ini kemudian dapat diterbitkan untuk mengundang investor dan meningkatkan mobilisasi turis, pelajar hingga ekspatriat dan yang paling penting adalah sebagai landasan arah perkembangan kota yang digunakan oleh para pengambil kebijakan dan konsultan.
 
"Indeks Livable city mengukur empat sektor yakni: sektor lingkungan, sosial, ekonomi dan regulasi atau politik. Perkembangan kota berkelanjutan saat ini telah bergeser dari awalnya hanya fokus pada penjagaan kerusakan lingkungan, menjadi bagaimana sebuah kota juga dapat memberi kehidupan dan aktifitas ekonomi serta sosial yang lebih baik untuk warganya, yang merupakan prinsip mendasar dari kota dan komunitas yang berkelanjutan," jelas Dimas.
 
Selain itu, Walikota Surabaya Tri Rismaharini turut menyampaikan paparan melalui video yang khusus direkam untuk SCI 2017 karena mendadak berhalangan hadir. Beliau memaparkan, secara komprehensif mengenai program kerja Pemerintah Kota Surabaya dalam mewujudkan kota yang berbasis berkelanjutan.
 
“Dalam mewujudkan kota yang dapat memfasilitasi dari semua kalangan, Pemerintah Kota Surabaya menggunakan basis–basis di Sustainable Development Goals. Kami meningkatkan segala fasilitas untuk penghijauan, ruang terbuka untuk aktifitas masyarakat dan intensifikasi penggunaan teknologi untuk melayani masyarakat. Misalnya saja, warga Surabaya tidak harus membawa medical records saat berkunjung ke rumah sakit karena semua sudah terdaftar secara elektronik yang dihubungkan lewat internet,” ujar Ibu Tri Rismaharini lewat video.
 
Dalam videonya, Ibu Tri Rismaharini menjelaskan peran warga dan komunitas dalam membangun kota dengan basis berkelanjutan. Selain itu, beliau melanjutkan dengan memaparkan program–program kerjanya yang berfokus pada pengembangan komunitas seperti program bahasa, perpustakaan mini dan taman membaca, area olahraga gratis dan beragam kegiatan yang kebanyakan diinisiasi oleh anak muda yang kebanyakan adalah sukarelawan, lalu difasilitasi oleh pemerintah kota Surabaya dan disambut baik serta antusias oleh warga.
 
Menjelang akhir acara, para peserta mendapatkan kesempatan untuk memberikan kontribusi gagasannya ke dalam rekomendasi kebijakan bertajuk pengelolaan kota dan komunitas yang berkelanjutan. Empat fokus pembahasan yang dibawakan saat acara yaitu: (a) minimalisir dampak negatif pembangunan Aerotopolis di Indonesia, (b) upaya konkret peningkatan pemahaman dan partisipasi warga dan komunitas dalam membangun kota berbasis berkelanjutan di Indonesia, (c) peran pedesaan agar tetap relevan dan tidak terpinggirkan dalam kerangka besar pembangunan kota berkelanjutan, dan (d) menciptakan sinergi dalam berbagai bidang antara kawasan perkotaan dengan
kawasan sekitarnya.
 
“Dalam penyelenggaraan seminar ini, tema kota dan komunitas berkelanjutan membuat kami belajar banyak hal dan kami ingin kalian juga membawa pulang pelajaran yang berharga. Di SCI, ide peserta dari bermacam latar belakang itu sangat penting dan kami ingin menampungnya”, ujar Annisa Hasbi selaku ketua pelaksana SCI 2017. (Rel)