Peristiwa

Ya Ampun, Siswi di Medan Nekat Jual Teman Sekolahnya Sendiri


Ya Ampun, Siswi di Medan Nekat Jual Teman Sekolahnya Sendiri
BERITASUMUT.COM/BS04
Beritasumut.com-Polda Sumut (Poldasu) meringkus 7 mucikari dari sejumlah hotel di Medan dan Deli Serdang. Ketujuh pelaku ini terlibat kasus perdagangan perempuan muda untuk dijadikan Pekerja Seks Komersial (PSK).
 
Ketujuh mucikari tersebut terdiri dari 6 perempuan dan 1 laki-laki. Tersangka pria berinisal HPS (32) alias Hendrik, warga Dusun Pekan, Kelurahan Pangkalan Palang, Kecamatan Pangkatan, Labuhanbatu. Sedangkan mucikari perempuan, yakni IP (22) dan Y (24) warga Sunggal, AB (19) dan P (26), PA (23) alias Siska, warga Grobokan Purwodadi dan CNS (17), siswa SMA di Medan.
 
Terkait salah satu pelaku masih berstatus siswi sekolah, Kasubdit IV/Renakta Ditreskrimum Poldasu, AKBP Sandy Sinurat mengungkapkan, jika CNS telah beberapa kali menjual teman sekolahnya kepada pria hidung belang. "Kasus ini terungkap ketika ibu korban, warga Deli Serdang mengadu ke kami. Katanya, anaknya sudah beberapa hari tak pulang ke rumah, lalu kami usut," jelas Sandy kepada wartawan, Selasa (07/11/2017).
 
Dari pengusutan ini, akhirnya keberadaan korban inisial Ds (18) diketahui sedang berada di sebuah rumah Delitua. Ia bersama seorang laki-laki. Polisi bergerak ke sana lalu mengamankan korban.Sedangkan laki-laki itu dibebaskan, karena ia, kata Sandy, tidak terlibat dan hanya mengantarkan korban. Polisi kemudian menginterogasi korban lalu terungkaplah kalau dia sudah dijual ke pria hidung belang beberapa kali oleh mucikari yang tak lain temannya sendiri inisial CNS (17).
 
Dari informasi itu, polisi menciduk tersangka CNS di Gang Dame, Tanjung Morawa. Namun, karena statusnya masih anak di bawah umur, polisi menitipkannya ke Pusat Panti Anak dan Remaja, Dinas Sosial Sumut. Sedangkan korban dititipkan di Dinas Sosial Parawansa Berastagi, untuk pemulihan. Meski dititip ke Dinas Sosial, kata Sandy, proses hukumnya tetap berjalan.
 
"Tersangka CNS ini sudah beberapa kali menjual temannya ke pria hidung belang. Ada 1 lagi korbannya, sampai drop out dari sekolah. Ya motifnya, demi uang. Ia efek pergaulan bebas yang kebablasan," jelas Sandy.
 
Sedangkan tersangka Y dan IP bercerita, mereka sudah delapan bulan menjalankan peran sebagai mucikari, sedangkan Siska baru 6 bulan. Sedangkan Hendrik dan AB sudah 1 tahun 2 bulan. Aktivitas ini langgeng karena belum pernah terendus polisi. Hingga akhirnya, laporan masyarakat menjadi pintu masuk pengungkapan kasus ini.
 
Sandy mengimbau agar orangtua lebih peduli kepada anak-anaknya serta mencegah supaya tidak terjerumus kepada pergaulan bebas yang berujung pada prostitusi. Untuk kasus prostitusi online, pungkas Sandy, pihaknya akan terus mengusut jaringan-jaringan maupun akun-akun media sosial yang dimanfaatkan untuk bisnis prostitusi. (BS04)

Tag:InstagramMucikariPSKPoldasuprostitusi onlineWhatsapp