Peristiwa

Warga Protes Bangunan Kotak Pengendali Gas PGN di Trotoar Jalan Setia Budi Medan


Warga Protes Bangunan Kotak Pengendali Gas PGN di Trotoar Jalan Setia Budi Medan
Ist
Sejumlah warga memasang poster bernada protes dibangunan kotak pengendali gas bumi milik PT PGN Sumut.
Medan, (beritasumut.com) – Puluhan warga yang terdiri atas kaum ibu, calon anggota legislatif, tokoh pemuda dan OKP, melakukan aksi protes atas keberadaan kotak pengendalian gas bumi milik PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Sumatera Utara yang berdiri di atas trotoar Jalan Setia Budi, Kelurahan Tanjung Rejo Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Kamis (5/12/2013).

“Kami minta pihak PT PGN untuk merelokasi kotak pengendalian gas di trotoar Jalan Setia Budi, sebab keberadaan sudah menimbulkan keresahan bagi masyarakat setempat khususnya para pejalan kaki di daerah kami ini, “ teriak pemuka masyarakat Indra Aritonang yang diamini sejumlah kaum ibu dan puluhan masssa warga lainnya.

Dalam aksi damai yang ditandai dengan pemasangan poster bernada protes tersebut, Ketua Soksi yang juga Caleg DPRD Kota Medan itu menjelaskan, sikap protes yang mereka lakukan merupakan akumulasi dari keresahan masyarakat yang anak-anaknya berulangkali nyaris menjadi korban laka lantas alias diserempet kendaraan para pengguna jalan, disebabkan hilangnya tempat untuk melintas berjalan kaki.

Sementara Tokoh Pemuda Kecamatan Medan Sunggal Hasmar Affandi (Nano) menimpali, box yang terbuat dari lempengean besi dan berpagar ukuran sekitar 3x3 meter tersebut sudah beberapa bulan berdiri, dengan memakan habis trotoar tanpa menyisakan sejengkalpun buat para pejalan kaki.

“Kami minta Pemko Medan untuk tegas menertibkan bangunan kotak pengendali milik PT PGN Sumut itu, demi mengembalikan fungsi trotoar kesedia kala sebab selama ini hak para pejalan kaki telah dibunuh hanya untuk kepentingan pribadi PT PGN, “ kesalnya.

Didampingi Ketua IPK Babura Monang, Irawan dan puluhan pemuda lainnya, Ketua IPK Medan Sunggal Nano mengatakan dalam Undang Undang (UU) No 38 Tahun 2004 secara tegas menyebutkan bahwa trotoar diberikan untuk pejalan kaki,apalagi diperkuat juga dengan Perda No 31 Tahun 1993 tentang pemakaian badan jalan.

“Tidak cuma untuk pejalan kaki yang memakai trotoar, juga jelas-jelas mendapat perlindungan dengan terbitnya Peraturan Walikota (Perwal) No 9 Tahun 2009 tentang mendirikan bangunan permanen atau pun sementara di badan jalan, trotoar, drainase dan garis sepadan sungai,” ujarnya.

Nano mengancam akan melakukan aksi dengan kekuatan massa masyarakat lagi, bila bangunan kotak pengendali gas bumi itu belum juga ditertibkan. “Untuk merelokasinya, salah seorang warga di kawasan Tanjung Rejo ini, juga telah mengikhlaskan sebagian areal tanahnya untuk tempat pemindahan box gas dimaksud, agar tidak lagi mengganggu hak para pengguna jalan kaki. Namun, bila niat baik masyarakat ini tidak juga direspon, jangan salahkan bila masyarakat menggunakan bahasanya untuk merelokasinya,” tegas Nano disambut teriakan protes kaum ibu dan elemen masyarakat lainnya.

Aksi yang berdurasi selama setengah jam di dipinggir Jalan Setia Budi itu, mendapat simpati para pengendara kendaraan bermotor yang melintas, sehingga sempat memacetkan arus lalu lintas di kawasan tersebut. (BS-040)

Tag:Warga