Peristiwa

Ratusan Petani Jagung di Karo Gagal Panen


Ratusan Petani Jagung di Karo Gagal Panen
beritasumut.com/ilustrasi

Beritasumut.com-Akibat kemarau, ratusan petani jagung Kecamatan Tigabinanga, Kecamatan Munthe dan Lau Baleng gagal panen. Lahan penghasil jagung terbesar di Sumatera Utara (Sumut) tersebut tidak dilengkapi infrastruktur yang layak seperti, irigasi dan sumur bor.
                 
Mahasiswa yang mengatas namakan Himpunan Mahasiswa Singalor Lau melakukan pengamatan ke lahan areal pertanian Jagung Kendit Kenderan Tigabinangga dan areal jagung Desa Gunung serta Desa Lau Kapor dan juga areal jagung Desa Munthe pada Senin (07/11/2016) lalu. Batang jagung yang sudah tua berwarna kuning dibiarkan tanpa dipanen.     
        
Menurut Septian Sebayang  perwakilan Himpunan Mahasiswa Singalor Lau kepada wartawan, Minggu (13/11/2016), jagung yang umurnya sudah siap panen tersebut tidak dapat dipanen oleh petani karena buah jagungnya tidak ada akibat terkena kemarau.
       
Disebutkan, kondisi jagung itu buahnnya hanya berupa tongkol saja dan tinggi batangnya hanya 50 Cm sera tidak merata satu sama lainnya. "Ini semua akibat kemarau yg panjang, cuaca menjadi kendala petani. Usai bibit jagung ditanami oleh petani dan sejak itu pula hujan tidak turun. Maka rusaklah pertumbuhan jagung itu dan tidak dapat lagi diberi pupuk," jelasnya.

Disebutkan, peristiwa gagal panen jagung tidak hanya terjadi pada tahun, gagal panen  ini juga telah berulang kali dialami petani di daerah penghasil jagung terbesar di Sumut.

Menurut mahasiswa Fakuktas Tehnik Universitas Sumatera Utara (USU) itu, area pertanian jagung tersebut sangat membutuhkan infrastruktur yang baik seperti irigasi dan sumur bor. Air sudah sangat perlu bagi petani pada musim kemarau. Sementara pemerintah Kabupaten Karo tidak juga memberikan solusi mengatasi gagal panen yang telah berulang kali terjadi.                            

"Sikap pemerintah kami nilai terkesan lupa dengan nasib petani. Padahal, gagal panen yang telah berulang kali terjadi, pemerintah sudah memberikan solusi dengan dibuatkannya areal irigasi dan sumur Bor. Padahal sejak jaman kakek kami dulu semua areal pertanian di Tigabinanga dan Munthe ada irigasinya. Ini kok semakin maju zaman irigasi itu sudah hilang dan tidak kunjung juga dibuat," jelasnya.  

Hal ini juga dibenarkan oleh Samuel Ginting yang merupakan salah satu petani di Desa Simolap Kecamatan Tigabinangga sekaligus pemilik gudang penggilingan jagung di desa Simolap. "Biasanya pada saat begini kami sibuk untuk menggiling jagung dan mengeringkanya di areal gudang saya, tapi sekarang ini kosong dan masyarakat petani sudah banyak yang stres karena gagal panen," keluhnya.   
              
Bantuan bibit jagung unggul dari pemerintah pusat kepada petani yang diberikan sia-sia karena terjadi musim kemarau dan infrastruktur pertanian tidak mendukung untuk mengantisipasi kemarau. "Akibat air tidak ada, sehingga bibit yang ditanam tumbuh tapi kerdil dan tidak mempunyai buah," ungkapnya.

Untuk diketahui, Kecamatan Tigabinanga sanggup memproduksi jagung 139.101 ton per tahun (sumber data : BPS Kabupaten Karo Tahun 2012). Dilihat penghitungan BPS Kabupaten Karo, Tigabinanga masuk kategori daerah terbaik di Kabupaten Karo untuk produksi jagung. Sementara Kabupaten Karo merupakan salah satu penyumbang terbesar produksi jagung di Sumut.(BS06)


Tag:BanjirCuaca ekstrimgagal panenpetani