Jumat, 20 September 2019
  • Home
  • Peristiwa
  • Rais Am PBNU Pertama KH Abdul Wahab Chasbullah Penggagas Istilah Halal Bi Halal

Rais Am PBNU Pertama KH Abdul Wahab Chasbullah Penggagas Istilah Halal Bi Halal

Selasa, 21 Juli 2015 17:10:00
BAGIKAN:
Facebook
A Jabidi Ritonga.
Beritasumut.com - Rais Am Pengurus Besar Nahdaltul Ulama (PBNU) pertama yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang, KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan penggagas istilah halal bi halal.

Demikian ditulis Wakil Sekjen DPP KNPI A Jabidi Ritonga di akun Facebook pribadinya, Selasa (21/7/2015).

Jabidi menulis, ceritanya, setelah Indonesia merdeka Tahun 1945, pada 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun.

"Pada Tahun 1948, di pertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan silaturahmi, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunnahkan bersilaturahmi," tulis mantan Sekjen PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini.

Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain".

"Itu gampang," kata Kiai Wahab. "Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturahmi nanti kita pakai istilah halal bi halal," jelas Kiai Wahab.

Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturahmi yang diberi judul "Halal bi Halal" dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

"Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan halal bi halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah halal bi halal sebagai kegiatan rutin dan budaya Indonesia," pungkasnya. (BS-001)
T#g:
  komentar Pembaca
  Berita Terkait
Copyright © 2010 - 2019 Portal Berita Sumatera Utara. All Rights Reserved.