Peristiwa

Pasca Kerusuhan Tanjung Balai, Gubsu Imbau Perkuat Koordinasi Lintas Agama


Pasca Kerusuhan Tanjung Balai, Gubsu Imbau Perkuat Koordinasi Lintas Agama
Beritasumut.com/BS03
Gubsu saat meninjau salah satu vihara di Tanjung Balai

Beritasumut.com-Pasca terjadinya kerusuhan di Tanjung Balai, Gubernur Sumatera Utara Ir H Tengku Erry Nuradi MSi meminta Pemerintah Kota (Pemko) Tanjung Balai memperkuat koordinasi lintas agama dalam mengantisipasi terjadinya pertikaian antaragama (intoleransi) maupun benturan yang diakibatkan konflik SARA.

Hal tersebut dikatakan Gubsu dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) Sumut dengan jajaran Pemko Tanjung Balai yang berlangsung di Pendoro Rumah Dinas Walikota Tanjung Balai, Jl Sudirman, Kota Tanjung Balai, Minggu (31/7/2016).Hadir dalam rapat tersebut Pangdam I/BB Mayjen (TNI) Lodewyk Pusung, Kapolda Sumut dan Irjen Pol Raden Budi Winarso, Walikota Tanjung Balai M Syahrial SH MH, Ketua DPRD Tanjung Balai Bambang Haryanto dan sejumlah Kepala SKPD serta tokoh lintas agama.

Dalam kesempatan tersebut, Erry mengimbau seluruh masyarakat Tanjung Balai, baik beragama Islam maupun Budha untuk befikir secara rasional dan tidak emosional dalam menghadapi situasi yang terjadi di lingkungan masyarakat. Selain itu, seluruh lapisan masyarakat diharapkan tidak mudah terprovokasi dengan isu yang dapat merusak harmonisasi dan kerukunan umat beragama.

“Selayaknya, tidak terjadi aksi pelarangan adzan di masjid. Begitu juga aksi perusakan rumah ibadah. Hal yang sederhana jangan sampai memicu benturan di tengah masyarakat,” pesan Erry.

Agar konflik kecil di tengah masyarakat tidak menjadi besar, Erry mengimbau Pemko Tanjung Balai mengaktifkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sebagai wadah koordinasi seluruh pemuka dan tokoh agama.

“FKUB merupakan garda terdepan dalam mengantisipasi konflik horizontal. Jika ada masalah, tokoh agama, tokoh masyarakat yang tergabung dalam FKUB dapat langsung mengambil langkah strategis untuk mengantisipasi dan meredam agar tidak pecah menjadi amuk massa,” ujar Erry.

Selain itu, Pemko Tanjung Balai juga diharapkan memperkuat Forum Kewaspadaan Dini yang menjadi media koordinasi amntara TNI, Polri, BIN, Organisasi Kemasyarakatan, Organisasi Kepemudaan, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).“Forum ini juga sangat membantu dalam mengantisipasi terjadinya kesalahfahaman di tengah masyarakat. Semua informasi yang berkembang ditengah masyakarat, dapat dihimpun, kemudian menjadi dasar berpijak dalam menentukan langkah antisipasi,” tambah Erry.

Dalam kesempatan itu, Erry menegaskan, Sumut merupakan provinsi yang kaya akan suku, adat istiadat dan agama. Terdapat 3 kelompok etnis utama di Sumut yakni etnis lokal, etnis nusantara dan etnis mancanegara.

Etnis lokal di Sumut sebanyak 8 etnis, enam diantaranya Puak Batak yaitu Batak Simalungun, Toba, Pakpak Karo, Angkola, Mandiling ditambah etnis Melayu dan Nias. Sedangkan etnis nusantara diantaranya etnis Jawa, Minang, Aceh, Sunda, Bugis, Banjar dan lain sebagainya. Etnis mancanegara diantaranya etnis Arab, China, India dan lainnya.

“Bahkan populasi etnis Jawa mencapai 35 persen di Sumut. Tetapi selama ini kita dapat hidup berdampingan secara harmonis. Kita dalam bingkai Bhinnneka Tunggal Ika. Walau berbeda tetapi tetap satu,” papar Erry.

Tidak lupa Erry mengimbau etnis Thionghoa untuk berbaur dengan kehidupan sosial dan tidak mengedepankan eksklusifisme dalam bermasyarakat.“Ini juga perlu mendapat perhatian saudara kita dari etnis Thionghoa. Eksklusifisme dapat menimbulkan kecemburuan sosial ditengah masyarakat. Untuk itu, perlu pembauran dalam sosial kemasyarakatan,” pesan Erry.

Keamanan, sebut Erry, sebagai salah satu sarat utama dalam menyukseskan pembangunan di Sumut. Untuk itu, seluruh lapisan masyarakat saling dukung dengan TNI, Polri dan Pemko dalam menciptakan rasa aman.“Pertikaian dapat mempengaruhi dunia investasi. Apalagi pemerintah telah mengeluarkan program pengampunan pajak dalam upaya mendorong laju pertumbuhan investasi di dalam negeri,” pungkas Erry.(BS03)


Tag: