Sabtu, 14 Desember 2019

Menjadikan 100 Tahun Musthafawiyah Tidaklah Mudah

Rabu, 00 0000 00:00:00
BAGIKAN:

Panyabungan, (beritasumut.com)

Ribuan warga dan alumni Pondok Pesantren Musthafawiyah dari berbagai daerah menghadiri acara puncak peringatan Satu Abad Musthafawiyah, Purba Baru, Kabupaten Mandailing Natal, Rabu (12/12/2012).

Acara juga dihadiri Menko diwakili Asisten Deputi Menko Kesra Yudian Wahyudi, Plt Gubernur Sumatera Utara Gatot Puju Nogroho, Bupati Madina Hidayat Batubara, Wakil Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution, Wakil DPRD Sumut Chaidir Ritonga, Walikota Padang Sidimpuan Zulkarnaen Nasution serta Wakil Bupati Tapteng Syukran J Tanjung.

Bupati Madina Hidayat Batubara dalam sambutannya, menyampaikan selamat kepada Pesantren Musthafawiyah yang sudah menyelengarakan acara peringatan satu abad. Mudah-mudahan acara ini menjadi berkah bagi kita semua, dan moment meningkatkan prestasi ke depan.

“Kita dari Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal sangat mendukung program yang dilakukan Pesantren Musthafawiyah Purba Baru ini, karena pesantren ini adalah salah satu kebanggaan milik Kabupaten Mandailing Natal. Pesantren ini sudah mendunia, dan kita sangat bangga mempunyai pesantren ini,” ujarnya.

Ke depan, pesantren ini diharapkan bisa melahirkan ulama-ulama andal yang bisa memberi ceramah yang baik kepada masyarakat.

Plt Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho dalam sambutannya menyampaikan masa depan bangsa ada di tangan santri pesantren ini. Oleh karena itu jangan sia-siakan kesempatan di waktu muda. Para santri agar mengambil peran untuk memajukan pembangunan dan akhlak masyarakat di Madina dan khususnya di Sumatera Utara.

“Manusia yang baik adalah manusia yang banyak bermanfaat bagi orang banyak, untuk itu kita harapkan para santri agar mempunyai karakter yang jujur, disiplin, dan teladaan. Untuk menjadikan legenda 100 tahun Musthafawiyah ini tidaklah mudah, karena kalau dulu pendiri Musthafawiyah tidak memberikan pelajaran yang baik, maka ini tidak akan dikenang. Tapi karena pendirinya dulu mengajarkan ilmu yang baik makanya beliau terus dikenang atau melegenda di Kabupaten Mandailing Natal ini,” ujarnya.

Lebih lanjut Gatot mengemukakan, pemerintah dan masyarakat Sumut berharap santri berprestasi. Para santri diharapkan bisa bisa menjaga bumi karena bumi diwarisankan kepada para santri. Kepada mudir, guru, Gatot mengajak agar memberikan spirit kepada santri untuk berprestasi.

Sebelumnya, Menko Kesra melalui Asisten Deputi Menko Kesra Yudian Wahyudi, menyampaikan, 100 tahun bukan masa yang pendek dan indah. 100 Tahun itu mempunyai cerita yang panjang dalam mendirikan pesantren ini.

“Pak Menteri menitipkan salam kepada kita semua, dan pesan beliau adalah, agar para santri untuk tetap mempertahankan budaya santri yaitu Islami waljamaah. Ini adalah budaya pesantren yang tidak boleh dihilangkan,” ujarnya.

Tujuh kelebihan pesantren dari sekolah umum yakni doa kiai karena doa para kiai biasanya terkabul. Kemudian pesantern itu ada berbagai daerah ada, makanya berbagai budaya ada di pesantren, seperti masakan dan budaya-budaya lain. Namun selalu bersama makanya mudah diatur dan mempunyai karekter tersendiri, seperti berbahasa Arab.

Kepada santri, supaya mengembangkan sikap dan sifat teladan Syeikh Mustafa Husein Nasution, yang mempunyai kemandirian di semua aspek.

Sementara Wakil Ketua DPRD Sumut Chaidir Ritonga dalam sambutannya mengatakan, mudah-mudahan akhlak bangsa ini bisa dibenahi dengan adanya pesantren-pesantren yang menciptakan ulama-ulama di daerah ini.

Dalam mempersiapkan generasi muda yang baik, yang bisa membangun bangsa dan agama ada di tangan para santri. Untuk itu DPRD sangat mendukung programa pesantren seperti yang disampaikan Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Musthafawiyah Purba Baru, yang menyampaikan perlunya aula pertemuan yang memuat seribu orang. Program tersebut sangat didukung karena selama ini tempat acara selalu mengganggu lalulintas.

Sebelumnya Mudir Musthafawiyah Mustafa Bakri Nasution menyampaikan terima kasih kepada para undangan dan alumni Musthafawiyah yang telah menyelenggarakan acara ini.

“Dapat kami sampaikan sedikit sejarah singkat berdirinya Musthafawiyah Purba Baru, yang didirikan pada Tahun 1912 di Desa Tano Bato dan pada waktu itu sistem pelajarannya adalah dengan melakukan mengaji setiap ba’da Maghrib dengan duduk berlingkar dengan mendengarkan ceramah alm nenek kami Mustafa Husein. Karena Desa Tano Bato dilanda banjir bandang pada Tahun 1915, maka pesantren ini dipindahkan ke Purba ini,” ujarnya.

Acara Peringatan Satu Abad Musthafawiyah Purba Baru juga dihadiri tuan guru besar dari Saudi Arabia yaitu Al ’Alimul Allahmah Asy Syeikh Majid Bin Mas’ud Bin Muhammad Salim Bin Rahmatullah yang didatangkan Persatuan Keluarga Kerukunan Sumatera Utara di Makkah. (BS-026)

T#g:
  komentar Pembaca
  Berita Terkait
Copyright © 2010 - 2019 Portal Berita Sumatera Utara. All Rights Reserved.