Kamis, 27 Februari 2020
  • Home
  • Peristiwa
  • Krisis Rohingya Kian Memanas, Tidak Bisa Dibiarkan

Krisis Rohingya Kian Memanas, Tidak Bisa Dibiarkan

Selasa, 29 Agustus 2017 16:00:00
BAGIKAN:
beritasumut.com/ist
Beritasumut.com-Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Rofi' Munawar menyesalkan sikap Pemerintah Myanmar yang membiarkan kekerasan dan pembunuhan terus terjadi terhadap etnis Rohingya. Ironisnya, berdasarkan keterangan dari berbagai lembaga internasional kekerasan tersebut juga dimotori oleh pihak tentara. 
 
"Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) harus segera mendesak Pemerintah Myanmar untuk menghentikan kekerasan terhadap etnis Rohingya. Situasi ini terus memburuk dan jauh dari perbaikan karena pihak otoritas setempat tidak bersungguh-sungguh mencegah kekerasan kemanusiaan," tegas Rofi Munawar, dalam keterangan pers yang dikirimkan, di Jakarta, Selasa (29/08/2017).  
 
Sebulan terakhir, konflik kembali memanas di negara bagian Rakhine. Berbagai bentuk kekerasan terus menyasar etnis Rohingya di beberapa desa yang tersebar di Maungdaw, Buthidaung, dan Rathedaung. Kekerasan paling parah dialami oleh sejumlah warga Rohingya yang bermukim di Kota Rathedaung, sekitar 77 km dari Maungdaw. Tercatat 77 orang meninggal dari etnis Rohingya.
 
Krisis rohingnya terus terjadi selama setahun terakhir. Mayoritas etnis Rohingya, yang jumlahnya ditaksir antara 1,3 hingga 1,5 juta jiwa, tinggal di negara bagian Rakhine di dekat perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh.
 
"Disamping itu ASEAN, khususnya Indonesia harus mengambil peran aktif untuk menghentikan krisis ini, karena sejatinya telah melanggar prinsip-prinsip dasar kemanusiaan. Jika tidak dilakukan segera maka dikhawatirkan akan jatuh korban yang lebih banyak lagi," ungkapnya.
 
Rofi juga secara khusus meminta Pemerintah Myanmar untuk membuka akses terhadap berbagai bantuan yang diperlukan untuk etnis Rohingya. Terlebih dalam krisis ini,banyak wanita dan anak-anak menjadi korban. Kementerian luar negeri Bangladesh mengatakan korban itu terpaksa menginap semalaman di wilayah rawa-rawa.
 
“Krisis ini kontradiktif karena terjadi di sebuah negara yang menghormati hak asasi manusia. Terlebih lagi disana ada tokoh Hak Azasi Manusia (HAM) yang pernah mendapatkan nobel perdamaian PBB Aung San Suu Kyi. Dan sekarang dia sedang ikut berkuasa,” pungkasnya.(rel)
T#g:RohingnyaRohingyaImigranPengungsi
  komentar Pembaca
  Berita Terkait
  • satu bulan lalu

    Perpres No 90 Tahun 2019, BNP2TKI Direvitalisasi Jadi BP2MI

    Beritasumut.com-Dengan pertimbangan untuk mengoptimalkan pelaksanaan kebijakan pelayanan dalam rangka penempatan dan pelindungan pekerja migran Ind

  • 3 bulan lalu

    Satgas Yonif Raider Khusus 136/TS Rawat Kesehatan Pengungsi Gempa Ambon

    Beritasumut.com-Pasca gempa berkekuatan 6.8 skala richter yang mengguncang Kota Ambon beberapa waktu lalu, para pengungsi masih terlihat di tenda-t

  • 4 bulan lalu

    Tim Pemprov Sumut Berusaha Dapatkan Kembali Passport dan Hak-hak Korban Pekerja Migran di Bawah Umur di Malaysia

    Beritasumut.com-Seperti yang diperintahkan Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi, Tim Pemprov Sumut terus berupaya secepatnya membawa pulan

  • 4 bulan lalu

    Pemko Medan Siap Dukung Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri

    Beritasumut.com-Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Medan Sulaiman Harahap SH MSP didampingi Kabid Pembinaan Sekolah Dasar D

  • 5 bulan lalu

    Peduli Nasib Warga Sumut di Wamena, Dekan Fisipol UMA Puji Sikap Gubernur

    Beritasumut.com–Sikap dan kepedulian Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi terhadap warga Sumut yang mengungsi akibat bencana sosial

  • Copyright © 2010 - 2020 Portal Berita Sumatera Utara. All Rights Reserved.