Sabtu, 21 September 2019
  • Home
  • Peristiwa
  • Krisis Rohingya Kian Memanas, Tidak Bisa Dibiarkan

Krisis Rohingya Kian Memanas, Tidak Bisa Dibiarkan

Selasa, 29 Agustus 2017 16:00:00
BAGIKAN:
beritasumut.com/ist
Beritasumut.com-Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Rofi' Munawar menyesalkan sikap Pemerintah Myanmar yang membiarkan kekerasan dan pembunuhan terus terjadi terhadap etnis Rohingya. Ironisnya, berdasarkan keterangan dari berbagai lembaga internasional kekerasan tersebut juga dimotori oleh pihak tentara. 
 
"Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) harus segera mendesak Pemerintah Myanmar untuk menghentikan kekerasan terhadap etnis Rohingya. Situasi ini terus memburuk dan jauh dari perbaikan karena pihak otoritas setempat tidak bersungguh-sungguh mencegah kekerasan kemanusiaan," tegas Rofi Munawar, dalam keterangan pers yang dikirimkan, di Jakarta, Selasa (29/08/2017).  
 
Sebulan terakhir, konflik kembali memanas di negara bagian Rakhine. Berbagai bentuk kekerasan terus menyasar etnis Rohingya di beberapa desa yang tersebar di Maungdaw, Buthidaung, dan Rathedaung. Kekerasan paling parah dialami oleh sejumlah warga Rohingya yang bermukim di Kota Rathedaung, sekitar 77 km dari Maungdaw. Tercatat 77 orang meninggal dari etnis Rohingya.
 
Krisis rohingnya terus terjadi selama setahun terakhir. Mayoritas etnis Rohingya, yang jumlahnya ditaksir antara 1,3 hingga 1,5 juta jiwa, tinggal di negara bagian Rakhine di dekat perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh.
 
"Disamping itu ASEAN, khususnya Indonesia harus mengambil peran aktif untuk menghentikan krisis ini, karena sejatinya telah melanggar prinsip-prinsip dasar kemanusiaan. Jika tidak dilakukan segera maka dikhawatirkan akan jatuh korban yang lebih banyak lagi," ungkapnya.
 
Rofi juga secara khusus meminta Pemerintah Myanmar untuk membuka akses terhadap berbagai bantuan yang diperlukan untuk etnis Rohingya. Terlebih dalam krisis ini,banyak wanita dan anak-anak menjadi korban. Kementerian luar negeri Bangladesh mengatakan korban itu terpaksa menginap semalaman di wilayah rawa-rawa.
 
“Krisis ini kontradiktif karena terjadi di sebuah negara yang menghormati hak asasi manusia. Terlebih lagi disana ada tokoh Hak Azasi Manusia (HAM) yang pernah mendapatkan nobel perdamaian PBB Aung San Suu Kyi. Dan sekarang dia sedang ikut berkuasa,” pungkasnya.(rel)
T#g:RohingnyaRohingyaImigranPengungsi
  komentar Pembaca
  Berita Terkait
  • 6 bulan lalu

    Capai 2127 Orang, Pengungsi dari Luar Negeri Ditempatkan di 20 Lokasi di Medan

    Beritasumut.com-Wali Kota Medan, Drs H T Dzulmi Eldin SMSi MH diwakili Kaban Kesbangpol Kota Medan, Sulaiman Harahap menghadiri rapat koordinasi pe

  • 10 bulan lalu

    Prajurit TNI Kogasgabpad Bantu Distribusikan Logistik Pengungsi di Palu

    Beritasumut.com-Keberadaan Bintara Pembina Desa (Babinsa) yang ada di desa-desa sangatlah penting untuk menjadi motivator dan pelopor dalam setiap

  • 11 bulan lalu

    Tampung 14.400 Warga, Pemerintah Bangun 1.200 Hunian Sementara Bagi Warga Korban Gempa Palu

    Beritasumut.com-Pemerintah akan membangun sebanyak 1.200 Hunian Sementara (Huntara) bagi korban bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di seju

  • 11 bulan lalu

    100 Prajurit TNI Bantu Relokasi Pengungsi di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Palu

    Beritasumut.com-Sebanyak 100 prajurit TNI dari Batalyon Infanteri Raider 700/Wira Yudha Cakti (WYC) dan Batalyon Infanteri Raider 600/Modang memban

  • 12 bulan lalu

    Helikopter MI-17 Bawa Bantuan Logistik Untuk Pengungsi Tiba di Donggala

    Beritasumut.com-Helikopter jenis MI-17 dari Skadron 31/Serbu Penerbad TNI AD yang di Piloti oleh Kapten Cpn Metrio Ramdani dan Co-Pilot Lettu Cpm A

  • Copyright © 2010 - 2019 Portal Berita Sumatera Utara. All Rights Reserved.