Peristiwa

Edarkan Uang Palsu, Yudi Ditangkap Polisi

Edarkan Uang Palsu, Yudi Ditangkap Polisi
BERITASUMUT.COM/IST
Beritasumut.com-Polsek Delitua berhasil mengungkap kasus peredaran uang palsu di sebuah Warung Jalan Brigjend Zein Hamid KM 8,2, Kelurahan Kedai Durian, Kecamatan Medan Johor, Jumat (06/10/2017). Tersangka bernama Wahyudi Tanjung alias Yudi (22) warga Jalan Besar Delitua, Gang Pantai Mawar, Kecamatan Delitua, Kabupaten Delitua, yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan bengkel.
 
Informasi dihimpun, kejadian bermula saat pelaku (Wahyudi Tanjung alias Yudi) berbelanja ke warung korbannya, Hadad Abrori Pulungan (32) warga Jalan Brigjend Zein Hamid KM 8,2, Kelurahan Kedai Durian, Kecamatan Medan Johor dengan menggunakan uang pecahan Rp 50.000,-. Betapa kagetnya korban mendapati kondisi uang tersebut yang sewaktu diremas, mendadak bagian sudutnya lekang.
 
Kejadian kedua, pelaku kembali berbelanja ke Tukang Roti yang tak jauh dari lokasi pertama korbannya. Pelaku membeli dagangan roti milik korban lainnya, Setiawati (19) warga Jalan AH Nasution, Kelurahan Kwala Bekala, Kecamatan Medan Johor. Di sini, Yudi kembali membayar dengan mengeluarkan 1 lembar uang pecahan Rp. 50.000, yang diduga palsu.
 
"Atas kejadian tersebut korban melaporkan kejadian ke petugas Polsek Delitua. Kemudian petugas bersama-sama korban berhasil mengamankan pelaku pengedar uang palsu tersebut," ujar Humas Polsek Delitua.
 
Hasil penggeledahan polisi, dalam tas pelaku, ditemukan 3 lembar uang pecahan Rp 50.000. "Nomor seri uangnya sama dengan uang yang digunakan ketika membayar roti tersebut. Kepada petugas, pelaku mengaku menerima uang palsu tersebut dari temannya berinisial R," sambungnya. Dengan ini, polisi berhasil menghimpun barang bukti berupa 4 lembar uang pecahan Rp 50.000, yang nomor serinya sama yakni ABU460147 dan 1 lembar uang pecahan Rp 50.000, yang bagian sudutnya lekang. 
 
"Atas kejadian ini, pelaku terkena Pasal 36 ayat (3), Undang-Undang No 7 tahun 2011, tentang Mata Uang, dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun, dan denda paling banyak Rp 50.000.000," pungkasnya. (BS06)