Sabtu, 25 Januari 2020
  • Home
  • Pendidikan
  • Sertifikasi Pustakawan di UIN Ar-Raniry Aceh, Dr Zulfikar Zen Minta Pengangkatan PNS Jangan Ada Inpassing

Sertifikasi Pustakawan di UIN Ar-Raniry Aceh, Dr Zulfikar Zen Minta Pengangkatan PNS Jangan Ada Inpassing

Sabtu, 02 November 2019 17:15:00
BAGIKAN:
BERITASUMUT.COM/IST
Beritasumut.com–Sebanyak 20 orang pustakawan dari berbagai universitas lainnya mengikuti training penguatan sertifikasi kompetensi pustakawan. Kegiatan tersebut berlangsung selama 2 hari mulai tanggal 1-2 Nopember 2019 di ruang Meeting UPT Perpustakaan UIN Ar-Raniry, Aceh.
 
Diselenggarakan oleh UPT Perpustakaan UIN Ar-Raniry, menghadirkan dua narasumber nasional yakni, Dr Zulfikar Zen MA dari Universitas Indonesia dan Utami Budi Rahayu Hariyadi MLib MPsiT dari Perpustakaan Nasional.
 
Kepala UPT Perpustakaan UIN Ar-Raniry, Drs Khatib A Latief MIS mengatakan, pustakawan sebagai salah satu profesi dituntut harus memiliki skill atau kemampuan khusus di bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi (Perpusdokinfo). Menurutnya, pengetahuan dan keterampilan seorang pustakawan perlu ditingkatkan dan di-update sesuai dengan tuntutan zaman serta kebutuhan pemustaka.
 
“Peningkatan kemampuan pustakawan dinilai sangat penting, selain untuk mampu melayani pemustaka secara professional juga untuk kenaikan jenjang kepangkatan pustakawan. Pengakuan profesionalitas seorang pustakawan oleh lembaga resmi Negara, Perpustakaan Nasional RI, harus dibuktikan melalui uji kompetensi dengan mengikuti Sertifikasi Pustakawan,” kata Drs Khatib A Latief MIS, di UPT Perpustakaan UIN Ar-Raniry, Sabtu (02/11/2019).
 
Selain itu, Dosen senior Prodi Ilmu Perpustakaan UIN Ar-Raniry ini juga mengingatkan bahwa standar kompetensi pustakawan sangat penting untuk menghadapi revolusi industry 4.0 dan free trade yang memungkinkan masuk pustakawan asing ke Indonesia. “Output yang kita harapkan setelah mengikuti pelatihan ini adalah para pustakawan mampu memahami secara komprehensif tentang uji kompetensi pustakawan Perguruan Tinggi, mampu membedakan kemampuan kompetensi pustakawan berdasarkan klaster masing-masing, peningkatan kompetensi pustakawan sehingga dapat lulus sertifikasi pustakawan, memahami kisi-kisi pertanyaan Uji Kompetensi Pustakawan,” harapnya.
 
Inpassing Pustakawan Rugikan Lembaga Pendidikan Formal
Dr Zulfikar Zen MA dari Universitas Indonesia mengatakan bahwa inpassing jabatan fungsional pustakawan memang sangat merugikan lembaga pendidikan formal. Namun inpassing atau penyesuaian jabatan fungsional pustakawan tidak bisa kita tolak karena kebijakan nasioanal berdasarkan Permenpan dan Reformasi Birokrasi No.26 Tahun 2016 tentang Pengangkatan PNS dalam Jabatan Fungsional Melalui Penyesuaian/Inpassing, tetapi kita berharap kalau bisa jangan ada Inpassing.
 
Hal ini disampaikan Dr Zulfikar Zen MA yang juga Wakil Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI). Menurutnya, inpassing adalah upaya pemerintah untuk meningkatkan kompetensi jabatan fungsional pustakawan, terutama untuk menambah jumlah jabatan fungsional. Di sisi lain, kebijakan ini sesuatu yang tidak mengembirakan bagi lembaga-lembaga pendidikan formal.
 
“Inpassing itu memang sangatlah merugikan lembaga pendidikan formal. Karena lulusan Ilmu Perpustakaan harus kuliah 144 sks baru menjadi Sarjana Ilmu Perpustakaan kemudian menjadi pustakawan. Namun, kita terus berusaha dan berharap orang-orang yang bekerja di perpustakaan harus berlatar belakang pendidikan di bidang perpustakaan,” katanya.
 
Hal senada juga disampaikan oleh Dosen senior Prodi Ilmu Perpustakaan UIN Ar-Raniry, Drs Khatib A Latief MLIS, menurutnya Inpassing jabatan fungsional pustakawan merupakan perlakuan yang tidak fair terhadap pustakawan atau tenaga perpustakaan lainnya. Karena seseorang yang tidak memiliki latar belakang Ilmu Perpustakaan dan Informasi dapat menjadi pustakawan secara ‘kilat’.
 
“Inpassing sangat berlawanan dengan prinsip pendidikan. Betapa tidak, mahasiswa menghabiskan waktu minimal tiga tahun untuk menyelesaikan Pendidikan baru berhak mendapatkan ijazah dalam bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Sebelumnya mereka harus menyelesaikan sekian sks dan magang,” sambung Khatib.
 
Menjadi pustakawan, menurut Khatib bukan hanya faktor pendidikan formal,tetapi yang paling penting memiliki roh pustakawan. “Komitmen, integritas, loyalitas dan nilai passion of service (dorong nilai kemanusian untuk membantu orang lain) yang harus dimiliki dan itu dibentuk dalam proses pendidikan,” pungkasnya. (Rel)
T#g:banda AcehDr ZulfikarZenPNS InpassingSertifikasi PustakawanUIN Ar-RaniryUIN Ar Raniry
  komentar Pembaca
  Berita Terkait
  • 4 hari lalu

    Selama 4 Hari, Guru PAI di Aceh Ikuti Teknis Pengelolaan Perpustakaan

    Beritasumut.com–Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar bersama Prodi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Ac

  • 7 hari lalu

    Banda Aceh Diguncang Gempabumi

    Beritasumut.com-Wilayah Banda Aceh diguncang gempabumi tektonik, Sabtu (18/01/2020) sekitar pukul 08.55.29 WIB. Berdasarkan hasil analisa BMKG menu

  • satu bulan lalu

    Selama Dua Hari, Mahasiswa UIN Ar-Raniry Dibekali Pelatihan Jurnalistik dan Mendeley

    Beritasumut.com–Sebanyak 10 mahasiswa Prodi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry dilatih dan dibekali pelatihan jurnal

  • 2 bulan lalu

    Pengurus ILMIBSI Gelar Muswil di UIN Ar Raniry

    Beritasumut.com-Pengurus Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia (ILMIBSI) Wilayah I Sumatera menggelar Musyawarah Wilayah (Mu

  • 2 bulan lalu

    Praktisi Ilmu Perpustakaan UMY Isi Kuliah Tamu di UIN Ar-Raniry

    Beritasumut.com–Praktisi Ilmu Perpustakaan dan Informasi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Drs Lasa Hs MSi, memberikan kuliah u

  • Copyright © 2010 - 2020 Portal Berita Sumatera Utara. All Rights Reserved.