Sabtu, 21 September 2019
  • Home
  • Pendidikan
  • Lukisan Dinding Tertua di Dunia Ditemukan di Indonesia, Usianya Hampir 40 Ribu Tahun

Lukisan Dinding Tertua di Dunia Ditemukan di Indonesia, Usianya Hampir 40 Ribu Tahun

Minggu, 11 November 2018 09:15:00
BAGIKAN:
BERITASUMUT.COM/IST
Beritasumut.com-Salah satu karya manusia dari zaman prasejarah kembali ditemukan di Indonesia. Kali ini lukisan dinding tertua di dunia, berusia 40 ribu tahun, ditemukan di Kalimantan Timur. Lukisan tersebut berupa gambar cadas atau lukisan figuratif tertua di dunia dengan karya seni yang enigmatis, yang ditemukan di kawasan pegunungan karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur.
 
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) di Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) melakukan penelitan kolaborasi berskala internasional dengan Griffith University dan Institut Teknologi Bandung. Dari penelitian ini telah berhasil ditemukan gambar cadas atau lukisan figuratif tertua di dunia dengan karya seni yang enigmatis, berusia 40.000 tahun. Gua-gua yang terdapat di kawasan pegunungan karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur, memang menyimpan potensi dan aset peninggalan peradaban masa prasejarah, khususnya lukisan gua.
 
Dilansir dari laman Kemendikbud, Minggu (11/11/2018), gua-gua tersebut menyimpan serangkaian gambar purba seperti tangan manusia (stensil), hewan, simbol-simbol abstrak, dan motif-motif yang saling berhubungan. Gambar cadas tertua yang diketahui penanggalannya adalah gambar seekor hewan yang tidak teridentifikasi (kemungkinan merupakan spesies banteng liar yang hingga kini masih ditemukan di kedalaman hutan Kalimantan).
 
Salah satu cara untuk menyajikan perkiraan usia pembuatan gambar cadas yang tepercaya ialah menggunakan penanggalan dengan metode uranium-series yang dilakukan terhadap sampel kalsium karbonat yang dikumpulkan dari gambar cadas. Perkiraan usia ini dipimpin oleh spesialis penanggalan gambar cadas dari Universitas Griffith, Maxime Aubert.
 
Spesialis gambar cadas dari Arkenas, Adhi Agus Oktaviana, mengatakan, gambar tapak tangan di Kalimantan tampak menunjukkan usia yang sama. “Hal ini memberi kesan bahwa tradisi gambar cadas Zaman Paleolitik pertama kali muncul di Kalimantan sekitar 52.000 dan 40.000 tahun yang lalu,” ujarnya yang juga menjadi co-leader Tim Penelitian.
 
Hasil penanggalan ini juga mengindikasikan bahwa terdapat perubahan besar pada budaya seni gambar cadas Kalimantan sekitar 20.000 tahun yang lalu ditunjukkan dengan adanya gaya baru dalam seni gambar cadas (termasuk beberapa gambaran manusia) ketika iklim global pada Zaman Es mencapai tingkatan yang paling ekstrim.
 
Salah satu co-leader, Pindi Setiawan, spesialis gambar cadas yang terkenal dan dosen di Institut Teknologi Bandung mengatakan, saat ini masih menjadi misteri mengenai siapa seniman pada Zaman Es di Kalimantan dan apa yang telah terjadi pada mereka.
 
Dr. Adam Brumm dan Maxime Aubert mengungkapkan artikel di Nature yang dipublikasikan oleh Arkenas pada tahun 2014. Dalam artikel tersebut tertulis bahwa gambar cadas yang serupa muncul di Sulawesi pada 40 ribu tahun lalu. Sulawesi terletak di tepi Eurasia dan merupakan 'Batu Loncatan' yang sangat penting antara Asia dan Australia.
 
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, publikasi secara resmi yang telah dimuat oleh Jurnal Nature merupakan salah satu bentuk pengakuan dunia internasional terhadap warisan budaya leluhur Indonesia. “Dan tentunya kita harus bangga dengan hal itu, salah satunya dengan upaya pelestarian,” ungkap Mendikbud.
 
Dalam penelitian ini terdapat 15 orang yang tergabung dalam Tim Peneliti, yakni Priyatno Hadi Sulistyarto, M.Hum. (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional), Adhi Agus Oktaviana, S.Hum. (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional), E. Wahyu Saptomo, M.Hum. (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional), Dr. Pindi Setiawan (Institut Teknologi Bandung), Dr. Maxime Aubert (Griffith University), Dr. Adam Brumm (Gniffith University), Drs. Budi Istiawan (Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur).
 
Kemudian, Tisna A. Marifat (Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur), Vincentius N. Wahyuono (Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur), Falentinus T. Atmoko (Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur), J.-X. Zhao (Queensland University), J. Huntley (Griffith University), P.S.C. Taçon (Griffith University), D.L. Howard (Australian Synchrotron Victoria) dan H.E.A. Brand (Australian Synchrotron Victoria). (BS09)
 
T#g:IndonesiaLukisan DindingLukisan Dinding Tertua di DuniaSejarahKalimantanLukisan
  komentar Pembaca
  Berita Terkait
  • 3 hari lalu

    Musa Rajekshah Apresiasi Rapat TPID se-Sumatera di Sumut

    Beritasumut.com-Koordinasi dan sinergi semua pihak yang terkait sangat penting dalam upaya pengendalian inflasi. Tindakan pengendalian inflasi yang

  • satu minggu lalu

    PPIH Canangkan Peningkatan Program Bimbingan Ibadah dan Pertahankan Sistem Zonasi di Tahun 2020

    Beritasumut.com-Penyelenggaraan ibadah haji 1440H/2019M mendekati fase akhir. Penanggung Jawab Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Nizar Ali m

  • satu minggu lalu

    Fase Akhir Penyelenggaraan Haji 1440H, Kloter Terakhir Pulang 15 September 2019

    Beritasumut.com-Penyelenggaraan ibadah haji 1440H/2019M sudah mendekati fase akhir. Kelompok terbang (kloter) terakhir akan pulang dari Madinah men

  • 2 minggu lalu

    Usai Bertugas Selama 62 Hari, Sebanyak 314 Petugas Haji Indonesia Tiba di Tanah Air

    Beritasumut.com-Usai bertugas selama 62 hari, sebanyak 314 Petugas Haji Indonesia telah kembali ke tanah air hari ini, Senin (09/09/2019). Mereka a

  • 2 minggu lalu

    9th Indonesia Climate Change Forum & Expo, Sekda Pemko Medan: Kelestarian Alam dan Lingkungan Adalah Tanggung Jawab Kita

    Beritasumut.com-9th Indonesia Climate Change Forum & Expo sekaligus Pekan Lingkungan Hidup (PLH) Sumatera Utara (Sumut) Tahun 2019 dengan tema

  • Copyright © 2010 - 2019 Portal Berita Sumatera Utara. All Rights Reserved.