Minggu, 23 Februari 2020
  • Home
  • Pendidikan
  • Lukisan Dinding Tertua di Dunia Ditemukan di Indonesia, Usianya Hampir 40 Ribu Tahun

Lukisan Dinding Tertua di Dunia Ditemukan di Indonesia, Usianya Hampir 40 Ribu Tahun

Minggu, 11 November 2018 09:15:00
BAGIKAN:
BERITASUMUT.COM/IST
Beritasumut.com-Salah satu karya manusia dari zaman prasejarah kembali ditemukan di Indonesia. Kali ini lukisan dinding tertua di dunia, berusia 40 ribu tahun, ditemukan di Kalimantan Timur. Lukisan tersebut berupa gambar cadas atau lukisan figuratif tertua di dunia dengan karya seni yang enigmatis, yang ditemukan di kawasan pegunungan karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur.
 
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) di Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) melakukan penelitan kolaborasi berskala internasional dengan Griffith University dan Institut Teknologi Bandung. Dari penelitian ini telah berhasil ditemukan gambar cadas atau lukisan figuratif tertua di dunia dengan karya seni yang enigmatis, berusia 40.000 tahun. Gua-gua yang terdapat di kawasan pegunungan karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur, memang menyimpan potensi dan aset peninggalan peradaban masa prasejarah, khususnya lukisan gua.
 
Dilansir dari laman Kemendikbud, Minggu (11/11/2018), gua-gua tersebut menyimpan serangkaian gambar purba seperti tangan manusia (stensil), hewan, simbol-simbol abstrak, dan motif-motif yang saling berhubungan. Gambar cadas tertua yang diketahui penanggalannya adalah gambar seekor hewan yang tidak teridentifikasi (kemungkinan merupakan spesies banteng liar yang hingga kini masih ditemukan di kedalaman hutan Kalimantan).
 
Salah satu cara untuk menyajikan perkiraan usia pembuatan gambar cadas yang tepercaya ialah menggunakan penanggalan dengan metode uranium-series yang dilakukan terhadap sampel kalsium karbonat yang dikumpulkan dari gambar cadas. Perkiraan usia ini dipimpin oleh spesialis penanggalan gambar cadas dari Universitas Griffith, Maxime Aubert.
 
Spesialis gambar cadas dari Arkenas, Adhi Agus Oktaviana, mengatakan, gambar tapak tangan di Kalimantan tampak menunjukkan usia yang sama. “Hal ini memberi kesan bahwa tradisi gambar cadas Zaman Paleolitik pertama kali muncul di Kalimantan sekitar 52.000 dan 40.000 tahun yang lalu,” ujarnya yang juga menjadi co-leader Tim Penelitian.
 
Hasil penanggalan ini juga mengindikasikan bahwa terdapat perubahan besar pada budaya seni gambar cadas Kalimantan sekitar 20.000 tahun yang lalu ditunjukkan dengan adanya gaya baru dalam seni gambar cadas (termasuk beberapa gambaran manusia) ketika iklim global pada Zaman Es mencapai tingkatan yang paling ekstrim.
 
Salah satu co-leader, Pindi Setiawan, spesialis gambar cadas yang terkenal dan dosen di Institut Teknologi Bandung mengatakan, saat ini masih menjadi misteri mengenai siapa seniman pada Zaman Es di Kalimantan dan apa yang telah terjadi pada mereka.
 
Dr. Adam Brumm dan Maxime Aubert mengungkapkan artikel di Nature yang dipublikasikan oleh Arkenas pada tahun 2014. Dalam artikel tersebut tertulis bahwa gambar cadas yang serupa muncul di Sulawesi pada 40 ribu tahun lalu. Sulawesi terletak di tepi Eurasia dan merupakan 'Batu Loncatan' yang sangat penting antara Asia dan Australia.
 
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, publikasi secara resmi yang telah dimuat oleh Jurnal Nature merupakan salah satu bentuk pengakuan dunia internasional terhadap warisan budaya leluhur Indonesia. “Dan tentunya kita harus bangga dengan hal itu, salah satunya dengan upaya pelestarian,” ungkap Mendikbud.
 
Dalam penelitian ini terdapat 15 orang yang tergabung dalam Tim Peneliti, yakni Priyatno Hadi Sulistyarto, M.Hum. (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional), Adhi Agus Oktaviana, S.Hum. (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional), E. Wahyu Saptomo, M.Hum. (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional), Dr. Pindi Setiawan (Institut Teknologi Bandung), Dr. Maxime Aubert (Griffith University), Dr. Adam Brumm (Gniffith University), Drs. Budi Istiawan (Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur).
 
Kemudian, Tisna A. Marifat (Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur), Vincentius N. Wahyuono (Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur), Falentinus T. Atmoko (Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur), J.-X. Zhao (Queensland University), J. Huntley (Griffith University), P.S.C. Taçon (Griffith University), D.L. Howard (Australian Synchrotron Victoria) dan H.E.A. Brand (Australian Synchrotron Victoria). (BS09)
 
T#g:IndonesiaLukisan DindingLukisan Dinding Tertua di DuniaSejarahKalimantanLukisan
  komentar Pembaca
  Berita Terkait
  • kemarin

    13 Institusi Teken MoU Pengawasan, Pengamanan, dan Pemanfaatan Sumberdaya Ikan di Laut Natuna Utara

    Beritasumut.com-Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan RI, Prof Dr Mohammad Mahfud MD SH SU MIP, bersama Kepala Badan Keamanan Laut

  • 3 hari lalu

    Menteri Agama Minta PT Garuda Siapkan Layanan Eyab untuk Jemaah Haji Indonesia

    Beritasumut.com-Menteri Agama Fachrul Razi meminta Garuda Indonesia menyediakan layanan Eyab (VIP Lounge) di Bandara Jeddah dan Madinah untuk jemah

  • 3 hari lalu

    Arsip Nasional RI Apresiasi Kerja Pemko Medan, Persiapkan Satu Data Indonesia

    Beritasumut.com-Arsip Nasional Republik Indonesia (RI) mengapresiasi kinerja Pemko Medan yang telah mempersiapkan Satu Data Indonesia dengan baik.

  • 4 hari lalu

    Pelindo I dan Anak Perusahaannya Resmi Terdaftar di Kamar Dagang Indonesia

    Beritasumut.com-PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) atau Pelindo 1 bersama Kamar Dagang Indonesia (Kadin) menyelenggarakan Seremoni Penyerahan Kartu

  • 6 hari lalu

    Pemberdayaan Petani Sawit, Pemkab Tapsel Jalin Kerjasama dengan CI Indonesia dan Unilever

    Beritasumut.com-Dalam rangka membangun bentang alam yang berkelanjutan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapanuli Selatan (Tapsel) secara konsisten me

  • Copyright © 2010 - 2020 Portal Berita Sumatera Utara. All Rights Reserved.