Kamis, 14 November 2019
  • Home
  • Pendidikan
  • Film Restorasi Bintang Ketjil Tayang di Kota Medan, Ratusan Pelajar Padati Bangku Bioskop

Film Restorasi Bintang Ketjil Tayang di Kota Medan, Ratusan Pelajar Padati Bangku Bioskop

Rabu, 04 September 2019 18:10:00
BAGIKAN:
BERITASUMUT.COM/BS02
Beritasumut.com-Bintang Ketjil, salah satu film yang berhasil direstorasi oleh Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbang Film) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI, tayang di kota Medan. Penayangan kembali film besutan sutradara Wim Umboh dan Misbach Jusa Biran di tahun 1963 ini merupakan kerjasama Pusbang Film Kemdikbud RI, bersama local partner Manuproject Pro Indonesia.
 
Tak tanggung, antusiasme masyarakat kota Medan di pemutaran dan diskusi film Bintang Ketjil terbilang tinggi. Lebih dari 225 penonton dari berbagai komunitas, sekolah, hingga perguruan tinggi hadir secara cuma-cuma di CGV Focal Point Ringroad, Kota Medan pada Selasa (03/09/2019). Hadir dalam pemutaran dan diskusi film itu, Kepala Pusbang Film Kemdikbud RI - Dr Maman Wijaya MPd, Project Director Render Digital Indonesia - Rizka Fitri Akbar, Pemeran Karakter Nana di film Bintang ketjil - Nana Awaludin, serta Ketua Yayasan Manuproject Pro Indonesia - Dr Immanuel Prasetya Gingtings MPd.
 
Dalam diskusinya, Kapusbang Film Kemdikbud RI mengatakan bahwa restorasi film ini adalah salah satu upaya yang bisa dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan arsip film-film nasional yang amat banyak, namun tak terdokumentasi dengan baik. "Tujuan utama kita adalah menyelamatkan film-film karya anak bangsa terdahulu, direstorasi agar dapat kembali diakses oleh masyarakat dan generasi di masa sekarang. Dalam film banyak nilai, budaya yang bisa dipelajari," ujarnya.
 
Karena itu, sambung Maman, Pusbang film akan terus secara konsisten melakukan penyelamatan dan restorasi. "Arsip film nasional sebagai aset seni budaya bangsa. Inilah bentuk tanggungjawab pemerintah kepada bangsa, serta pemenuhan hak akses masyarakat atas arsip film nasional," terang Kapusbang Film Kemdikbud RI.
 
Dia menjelaskan, bahwa hingga saat ini, Pusbang Film memiliki 700 film layar lebar dan telah merestorasi 3 film layar lebar Indonesia, diantaranya "Darah dan Doa" (diputar kembali 2013), "Pagar Kawat Berduri" (diputar kembali 2018) dan tahun ini "Bintang Ketjil". "Diutamakan fil yang direstorasi itu yang bisa dinikmati semua umur, serta yang dalam kondisi paling memprihatinkan, artinya harus segera direstorasi," jelas Dr Maman Wijaya MPd.
 
Sementara itu, Project Director Render Digital Indonesia Rizka Fitri Akbar mengaku kesulitan terbesar dari proses restorasi adalah kondisi fisik filmnya sudah rusak berat karena tidak disimpan dengan baik. "Kondisi gulungan film yang telah berusia puluhan tahun ini, serta prosesnya yang detail membuat biaya yang dikeluarkan cuokup mahal. Restorasi ini bisa menghabiskan biaya 1,7 Milyar dan untungnya pengerjaannya sudah bisa kita kerjakan di Indonesia sehingga tidak perlu ke luar negeri lagi," terangnya.
 
Pemeran Karakter Nana di film Bintang ketjil, Nana Awaludin, yang sebelumnya sempat bersembunyi diantara kerumunan penonton ikut angkat bicara. Dalam usianya yang menuju 70 tahun, Bung Nana, tampak bugar dan sangat senang menghadiri pemutaran filmnya. "Film ini saya perankan sewaktu usia 11 tahun, ternyata saat kembali diputar di tahun 2019 ini tetap tidak kehilangan identitas ya! banyak nilai-nilai dan problematika tentang pengasuhan misalnya, masih relevan dengan problem yang ada sekarang," ungkapnya.
 
Film yang diperankan Nana Awaludin itu bercerita tentang dua anak perempuan, Maria dan Susi. Tokoh Maria diperankan oleh L Maria Umboh Hamel (anak Win Umboh, sang Sutradara) dan tokoh Susi oleh Susi Sudrajat. Dua anak perempuan yang bersahabat baik, meski beda kasta sosial. Mereka pun kabur dari rumah karena ingin sekali pergi ke kebun binatang. Pertemuannya tak disengaja, saat berjumpa dengan Bung Nana, anak berusia 11 tahun yang saat itu putus sekolah dan bekerja menyemir sepatu. Dalam sudut pandang Maria dan Susi yang usianya jauh lebih kecil dari Nana, pekerjaannya sangat menyenangkan. Bisa berkelana kemana-mana tanpa harus minum susu dan pergi ke sekolah. Adapula tokoh Lily, kakak Nana yang karena himpitan ekonomi harus tinggal di rumah Yatim Piatu. Kolaborasi para tokoh cilik ini kemudian menjadi jalan cerita menarik, haru, kocak dan sarat nilai. (BS02)
T#g:Bintang KetjilFilm RestorasiFocalpoint MedanKemdikbud RIManuproject IndonesiaNana AwaludinPusbang Film
  komentar Pembaca
  Berita Terkait
  • 12 bulan lalu

    Kemdikbud RI dan BlueScope Komitmen Tingkatkan Kompetensi SMK di Bidang Konstruksi Baja Ringan

    Beritasumut.com-PT NS BlueScope Indonesia (BlueScope), perusahaan pemimpin di industri baja lapis, melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU)

  • Copyright © 2010 - 2019 Portal Berita Sumatera Utara. All Rights Reserved.