Minggu, 26 Mei 2019
  • Home
  • Kesehatan
  • Teknologi Nuklir Mampu Deteksi Polutan Udara Berukuran Kurang dari 2,5 Mikrometer

Teknologi Nuklir Mampu Deteksi Polutan Udara Berukuran Kurang dari 2,5 Mikrometer

Minggu, 21 April 2019 12:15:00
BAGIKAN:
BERITASUMUT.COM/IST
Beritasumut.com-Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) telah menguasai Teknik Analisis Nuklir (TAN) yang merupakan satu-satunya metode nondestructive yang mampu mendeteksi spesies kimia polutan udara dengan ukuran kurang dari 2,5 mikrometer yang tidak dapat dilakukan oleh metode analisis lainnya. 
 
Pencemaran udara saat ini telah menjadi permasalahan serius di setiap kota, karena berdampak buruk pada kesehatan manusia. Menurut data World Health Organization (WHO), tahun 2012, terdapat 2,6 juta kematian di wilayah Pasifik Barat dan Kawasan Asia Tenggara yang disebabkan pencemaran udara.
 
“Masyarakat yang tinggal di Asia paling berisiko terhadap pencemaran udara karena lebih dari 50%  kota-kota besar di dunia berlokasi di Asia dan sebagian besar memiliki permasalahan pertumbuhan populasi yang cepat, urbanisasi, transportasi dan industrialisasi,” kata peneliti senior BATAN, Muhayatun Santoso seperti dilansir dari laman ristekdikti.go.id, Minggu (21/04/2019).
 
Selama ini menurut Muhayatun, pemantauan terhadap kualitas udara telah dilakukan terhadap CO, SO2, Nox, O3 dan PM10 (partikulat yang berukuran kurang dari 10 mikrometer) sebagai dasar untuk menghitung Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Padahal di udara juga terdapat partikulat yang berukuran kurang dari 2,5 mikrometer, dikenal dengan PM-2,5 yang berbahaya karena ukurannya yang kecil sehingga mampu menembus bagian terdalam dari paru-paru.“Sebagai ilustrasi, ukuran PM-2,5 sebanding dengan sekitar 1/30 dari diameter rambut manusia yang pada umumnya berukuran 50-70 mikrometer. Sedangkan PM-10 sebanding dengan 1/7 dari diameter rambut,” tambahnya.
 
Menurut dia, data dan riset PM-2,5 di Indonesia sangat terbatas, untuk itulah perlu dilakukan pemantauan dan studi komprehensif.  BATAN bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melakukan penelitian kualitas udara di 16 kota besar di Indonesia yakni Jakarta, Tangerang Selatan, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Pekanbaru, Medan, Palangka Raya, Balikpapan, Makassar, Manado, Ambon, Jayapura, Mataram dan Denpasar.
 
Dengan menggunakan TAN, jelas Muhayatun, BATAN tidak hanya fokus dalam menentukan konsentrasi massa PM-2,5 dan PM-10, melainkan lebih detail lagi yakni menentukan komposisi kimia yang terkandung pada partikulat udara.“TAN merupakan satu-satunya metode karakterisasi partikulat udara yang unik karena memiliki kemampuan mendeteksi secara simultan, cepat, selektif, sensitif, tidak merusak, dan memiliki limit deteksi orde nanogram bahkan pikogram,” jelasnya.
 
Salah satu parameter penting yang menjadi fokus riset ini adalah pemantauan pencemaran logam berat khususnya Timbal (Pb) pada PM-2,5. Logam Pb yang terdapat di udara jika terhisap dan terakumulasi hingga 10 ug/dL pada seorang anak, dapat mengakibatkan menurunnya tingkat intelegensia, learning disability, mengalami gejala anemia, hambatan dalam pertumbuhan, perkembangan kognitif buruk, sistem kekebalan tubuh yang lemah dan gejala autis.
 
Program pemerintah penggunaan bensin tanpa timbal yang diberlakukan sejak Juli 2006 sangat baik bagi lingkungan. Ia mengakui program ini memberi dampak signifikan terhadap menurunnya rerata konsentrasi logam timbal di Kota Bandung.
 
Ia menjelaskan, hasil ini tidak diikuti oleh kota lainnya di Indonesia, kadar logam berat Pb pada PM-2,5 dan PM-10 di beberapa kota masih relatif tinggi. Konsentrasi Pb di lokasi sampling Tangerang dan Surabaya lebih tinggi ketimbang 14 kota lainnya, meskipun masih berada di bawah rerata baku mutu yang ditetapkan berdasarkan PP 41 Tahun 1999. “Namun demikian hal ini perlu mendapat perhatian karena rerata hasil yang diperoleh dari dua lokasi sampling ini cenderung lebih tinggi dibandingkan baku mutu yang digunakan di Amerika yakni sebesar 0,15 mikrogram/m3,” jelasnya.
 
Muhayatun menegaskan, pencemaran udara merupakan fenomena global. Pencemaran yang dipancarkan dari satu sumber dapat dengan mudah melintasi perbatasan suatu kota bahkan negara dan berdampak pada tempat yang dilaluinya. Oleh karena itu penanganan ini tentunya memerlukan upaya bersama dalam framework regional.
 
“Hasil ini merupakan informasi penting sebagai early warning dan perlu mendapat perhatian dalam mengatasi permasalahan polusi di perkotaan. Selain digunakan sebagai baseline data dan bahan masukkan untuk evaluasi/revisi peraturan baku mutu kualitas udara, data karakteristik yang diperoleh juga mampu mendeteksi secara dini terjadinya pencemaran,” pungkasnya. (BS09)
 
T#g:nuklirTeknologi NuklirCuacaUdara
  komentar Pembaca
  Berita Terkait
  • 3 minggu lalu

    Hadapi Anomali Cuaca, Sekda Minta Camat Kerahkan Petugas P3SU

    Beritasumut.com-Guna menghadapi anomali cuaca yang terjadi belakangan ini Sekda meminta agar Camat mengkerahkan petugas P3SU guna mengantisipasi te

  • 2 bulan lalu

    Masuk Musim Kemarau, BNPB Imbau Warga Waspada Karhutla

    Beritasumut.com-Awal musim kemarau tahun 2019 di Indonesia jatuh pada bulan April-Mei. Masa transisi musim dari penghujan menuju kemarau tersebut d

  • 2 bulan lalu

    Equinox Fenomena Biasa, BMKG Imbau Masyarakat Tenang

    Beritasumut.com-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menanggapi beredarnya berita yang menyebutkan adanya fenomena Equinox, dim ana

  • 3 bulan lalu

    BMKG I Medan Pantau Ada 3 Titik Panas di Sumut

    Beritasumut.com-Kepala Bidang Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan, Syahnan menyebutkan jik

  • 3 bulan lalu

    Dua Titik Panas Terpantau BKMG di Madina

    Beritasumut.com-Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kembali menemukan adanya titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera Utara (Sumut)

  • Copyright © 2010 - 2019 Portal Berita Sumatera Utara. All Rights Reserved.