Selasa, 20 Agustus 2019
  • Home
  • Kesehatan
  • Pasca Tsunami di Banten, Kemenkes Imbau Masyarakat Waspadai Penyakit Diare

Pasca Tsunami di Banten, Kemenkes Imbau Masyarakat Waspadai Penyakit Diare

Minggu, 30 Desember 2018 14:15:00
BAGIKAN:
BERITASUMUT.COM/ILUSTRASI
Beritasumut.com-Warga Banten khususnya di lokasi terdampak tsunami, yakni wilayah Pandeglang dan Serang diminta waspada terhadap penyakit diare. Berdasarkan laporan sementara tim Rapid Health Assessement (RHA) bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes yang terdiri dari Subdit Surveilans, PHEOC Indonesia, FETP Indonesia, KKP Banten, Dinkes Banten, dan Dinkes Jawa Barat pada 25 Desember 2018 kemarin, diketahui penyakit yang berpotensi menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah diare akut.
 
Menteri Kesehatan (Menkes) RI Nila Moeloek meminta kepada seluruh warga terdampak tsunami di Banten agar berusaha untuk menjaga kebersihan. "Minimal cuci tangan sebelum makan untuk mencegah bakteri masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan menyebabkan diare," katanya dilansir dari Depkes.go.id, Minggu (30/12/2018).
 
Selain diare, Menkes juga ingatkan masyarakat agar waspada terhadap penyakit lainnya yang bersumber dari lingkungan. "Sebagai tindaklanjut, di antaranya telah dilakukan desinfeksi di Puskesmas Carita oleh tim Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Banten dan pemberian bantuan logistik seperti family hygiene kit, masker, plastik sampah, obat-obatan, dan ambulans dari Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan, KKP Banten, KKP Soekarno Hatta, KKP Tanjung Priok, serta KKP Bandung," imbunnya.
 
Gambaran situasi penyakit potensial KLB sebelum terjadinya bencana di wilayah Padeglang dan Serang pada minggu ke-49 dan ke-50 tahun 2018 berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), 3 penyakit yang kemungkinan tinggi berpotensi KLB adalah diare akut, penyakit serupa influenza (ILI), dan suspek demam tifoid.
 
Di Pandeglang, kasus diare akut itu mencapai 859 kasus, disusul penyakit serupa influenza (ILI) sebanyak 504 kasus, dan suspek demam tifoid sebanyak 204 kasus. Sementara di Serang, kasus diare akut sebanyak 912, ILI 386 kasus, dan suspek demam tifoid sebanyak 121 kasus. Data tersebut didapatkan sebelum terjadinya tsunami (minggu ke-49 dan ke-50 tahun 2018), saat ini setelah tsunami menerjang kedua kabupaten itu ada kemungkinan angka kasus dari ketiga penyakit potensial KLB itu meningkat. (BS07)
T#g:bencana alamDiareKemenkes RIPenyakit PerutTsunami Banten
  komentar Pembaca
  Berita Terkait
  • 7 hari lalu

    Menteri LHK, Panglima TNI dan Kapolri Tinjau Lokasi Karhutla di Riau

    Beritasumut.com-Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto SIP, bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, Kapolri Jenderal P

  • satu minggu lalu

    Wabup Dairi: Kabupaten Dairi Masuk Kategori Daerah Resiko Tinggi untuk Bencana Alam

    Beritasumut.com-Wakil Bupati (Wabup) Dairi, Jimmy Andrea Lukita Sihombing SH membuka Sosialisasi Penanggulangan Bencana Tahun 2019 yang diadakan ol

  • 2 minggu lalu

    Soal Isu Megathurst, Presiden Jokowi Minta BNPB Persiapkan Masyarakat Hadapi Evakuasi

    Beritasumut.com-Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui adanya potensi terjadinya gempa besar berkekuatan 9,0 Skala Richter (SR) atau yang sering di

  • 4 minggu lalu

    Bencana Kekeringan Terjadi di 55 Wilayah Kabupaten dan Kota di Indonesia

    Beritasumut.com–Sejumlah wilayah kabupaten dan kota di Indonesia telah menetapkan status siaga darurat kekeringan. Badan Nasional Penanggulan

  • 2 bulan lalu

    BMKG: Sejumlah Wilayah Indonesia Berpotensi Kekeringan

    Beritasumut.com-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan, berdasarkan hasil monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga tangg

  • Copyright © 2010 - 2019 Portal Berita Sumatera Utara. All Rights Reserved.