Kesehatan

Gangguan Identitas Kepribadian Ganda Dipicu Tindak Kekerasan Pada Anak


Gangguan Identitas Kepribadian Ganda Dipicu Tindak Kekerasan Pada Anak
BERITASUMUT.COM/ILUSTRASI
Beritasumut.com-Munculnya kelainan psikologis atau gangguan identitas kepribadian ganda (lebih dari satu), salah satunya dipicu trauma dari tindak kekerasan yang pernah dialami korbannya semasa anak-anak. Tindakan kekerasan secara fisik ataupun seksual yang kerap dilakukan Orangtua kepada anaknya ini juga dapat kerusakan kepribadian bagi korbannya.
 
Direktur Minauli Counsulting Irna Minauli mengatakan, para orangtua sedapat mungkin meminimalisir tindakan kekerasan baik secara fisik maupun seksual, terutama terhadap anaknya. Karena jumlah kepribadian yang dapat diakibatkan oleh perbuatan itu, justru bisa merusak kepribadian hingga menciptakan puluhan kepribadian dari si anak.
 
"Anak yang memiliki kepribadian ganda perlu mendapatkan perawatan psikiatris. Malah, beberapa kasus sudah dibukukan, misalnya Sybil dengan 16 kepribadian dan Billy yang memiliki 24 kepribadian," ungkapnya kepada wartawan, Jumat (25/08/2017). Irna menjelaskan, seringkali ketika seorang anak mengalami kekerasan fisik atau seksual yang tidak mampu mereka atasi, maka kepribadian baru akan terbentuk seolah sedang mengamati kepribadian lain yang sedang disiksa. Dari kepribadian yang baru itu, hadir seolah untuk mengatasi atau melengkapi kekurangan dari kepribadian dirinya.
 
"Misalnya, satu kepribadian yang dianggap terlalu submisif (pasrah-red) sehingga selalu menjadi korban kekerasan maka akan terbentuk kepribadian lain yang hadir untuk membela pribadi yang submisif tadi. Meski demikian, masing-masing kepribadian tidak saling mengenal, dan juga terkadang berebut agar dapat mengambil tempat dalam kehidupan mereka," jelasnya.
 
Secara psikologis, terang Irna, kepribadian ganda ini dikenal sebagai Dissociative Identity Disorder (gangguan identitas yang disosiatif). Dikatakan disosiatif karena antara satu kepribadian dengan kepribadian yang lain tidak ada memiliki hubungan, sebab masing-masing kepribadian seolah berdiri sendiri-sendiri sehingga tidak saling mengenal.
 
Gangguan ini, lanjut dia, sebelumnya dikenal sebagai Multiple Personality Disorder (gangguan kepribadian majemuk). Tapi masyarakat sering menyebutnya sebagai kepribadian ganda, meski sebenarnya istilah ini juga kurang sesuai, karena istilah ganda hanya mengacu pada dua kepribadian saja. "Kenyataannya, mereka seringkali memiliki kepribadian yang lebih dari dua. Itu sebabnya lebih tepat dikatakan sebagai gangguan kepribadian majemuk," sambungnya.
 
Kesalahkaprahan masyarakat dalam menilai kasus kepribadian majemuk ini terang Irna, adalah sering secara gegabah memeperuntukkan kepada mereka yang terkadang berperilaku menyenangkan namun di lain kesempatan kemudian berperilaku jahat. Padahal dalam kasus ini, seringkali seseorang memiliki beragam sisi kepribadian baik yang positif maupun negatif.
 
"Selama masing-masing pribadi itu menyadari perilaku kepribadian lainnya maka hal itu tidak dapat dikategorikan sebagai DID (Dissociative Identity Disorder). DID sendiri merupakan gangguan jiwa berat sehingga angka kejadian termasuk sangat langka. Ciri khasnya, antara satu kepribadian dengan kepribadian lainnya saling tidak saling mengenali, meski seringkali ada "sutradara" atau dikenal sebagai alter ego yang bisa mengatur kemunculan dari masing-masing kepribadian," beber Irna.
 
Akan tetapi, dengan semakin banyaknya kekerasan fisik dan seksual yang dialami, maka secara teoretis kemungkinan jumlah penderitanya akan semakin bertambah. Dinamika psikologis yang terjadi pada pembentukan gangguan kepribadian ini adalah karena adanya siksaan yang tidak mampu diatasi. "Akibatnya, mereka sering 'membelah' kepribadiannya, sehingga merasa penderitaan yang mereka alami dapat berkurang," pungkasnya. (BS03)

Tag:AnakBipolarDIDGangguanKDRTKekerasanKepribadian Gandapsikologis