Gaya Hidup

Stigma Jelek bagi Penderita Gangguan Kejiwaan Perlu Diubah


Stigma Jelek bagi Penderita Gangguan Kejiwaan Perlu Diubah
BERITASUMUT.COM/ILUSTRASI
Beritasumut.com-Penyakit gangguan jiwa bagi masyarakat Indonesia masih kerap dikaitkan dengan fenomena mistis, seperti guna-guna dan kemasukan roh jahat. Tak hanya itu, stigma masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa juga selalu buruk. Penderita gangguan jiwa seringnya diidentikkan dengan istilah yang merendahkan. Misalnya orang gila, sinting, miring dan saraf. Pasalnya, orang dengan gangguan jiwa sering dianggap tidak dapat menguasai hawa nafsu, kurang beriman, tidak pernah bersyukur, banyak maunya dan lain sebagainya.
 
Fenomena ini diungkap oleh Dr dr Elmeida Effendy MKed KJ SpKJ (K) bahwa di beberapa wilayah, hingga kini akibat gangguan jiwa tersebut, masih ada yang sampai memasung anggota keluarganya. "Sehingga diobati ke dukun atau paranormal. Selain itu, tak sedikit penderita gangguan jiwa yang terpaksa dipasung oleh keluarganya," ungkapnya, Selasa (25/04/2017).
 
Elmeida menuturkan, stigma negatif masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa juga tinggi. Terutama hal itu terjadi pada masyarakat dengan pendidikan rendah. "Orang dengan gangguan jiwa dianggap memalukan dan berbahaya. Ada rasa malu keluarga, penyakit ini dianggap tidak elit dan tidak bergengsi," katanya.
 
Padahal jelas Elmeida, definisi gangguan jiwa itu sangat luas. Saat ini, beragam jenis gangguannya sudah lebih dikenali. "Dahulu, banyak masyarakat yang mengira penyakit tersebut karena guna-guna maupun kesurupan. Beragamnya gangguan jiwa menyebabkan angkanya juga beragam. Diagnosis yang satu berbeda dengan angka kejadian yang lain," ungkapnya.
 
"Sekarang orang paham ke semuanya itu merupakan gangguan jiwa. Gejala harus dinilai berdasarkan jenis gangguan jiwanya, apakah skizofrenia, bipolar, depresi, ansietas dan beratus gangguan jiwa lainnya. Kalau dirawat di rumah sakit jiwa, hal ini akan dirahasiakan karena stigma masyarakat masih sangat jelek terhadap penderita gangguan jiwa," terang Elmeida.
 
Menurut Elmeida, stigma masyarakat ini sulit diubah. Namun, setidaknya mulai dari sekarang semua orang harus mendeteksi dini anggota keluarganya yang mengalami perubahan perilaku. "Berusahalah mendeteksi dini kalau sudah ada perubahan perilaku atau kebiasaan. Segera berkonsultasi ke dokter, psikiater dan psikolog karena penatalaksanaan dini dapat mencegah bertambah buruknya gejala," bebernya.
 
Elmeida menambahkan, tren penderita gangguan jiwa saat ini juga semakin meningkat. "Keadaan ini terkait berbagai kemungkinan, bisa saja karena angka pencatatan sekarang lebih baik sehingga penderita yang dulunya tidak terdeteksi, saat ini lebih banyak terdata," pungkasnya. (BS03)

Tag:GangguanJiwaKesehatanPsikologi