Selasa, 15 Oktober 2019
  • Home
  • Ekonomi
  • Tahun Ini, Kemenperin Targetkan Ekspor Mobil Naik Hingga 15 Persen

Tahun Ini, Kemenperin Targetkan Ekspor Mobil Naik Hingga 15 Persen

Minggu, 28 April 2019 11:15:00
BAGIKAN:
BERITASUMUT.COM/IST
Beritasumut.com-Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membidik jumlah ekspor mobil pada tahun 2019 akan menembus 400 ribu unit atau naik 15,6 persen dibanding capaian tahun 2018 sebesar 346 ribu unit. Peningkatan ini seiring tumbuhnya permintaan konsumen luar negeri terutama di Asean dan terbukanya pasar baru seperti di Australia.
 
“Pasar Asean masih sangat potensial. Sekarang, ekspor mobil Indonesia terbesar, di antaranya ke Filipina dan Vietnam, bahkan pasar di Thailand juga mulai terbuka,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto dilansir dari laman kemenperin, Minggu (28/04/2019).
 
Menperin menyampaikan, peluang peningkatan ekspor mobil Indonesia yang juga ada di depan mata adalah ke pasar Australia. Ini merupakan hasil negosiasi yang sudah ditandatangani dari perjanjian kerja sama ekonomi yang komprehensif di antara kedua negara.“Pemerintah tentu masih menunggu ratifikasi parlemen kedua belah pihak. Tetapi apabila sudah diratifikasi, potensi untuk ekspornya terbuka, termasuk kendaraan yang electric vehicle, pemerintah Australia juga memberi prioritas,” paparnya.
 
Menurut Airlangga, industri otomotif merupakan salah satu sektor manufaktur yang sudah memiliki struktur dalam di Indonesia, mulai dari hulu sampai hilir. “Misalnya, kita sudah punya bahan baku seperti baja, plastik, kaca, ban, hingga engine itu sudah diproduksi di dalam negeri. Lokal konten rata-rata di atas 80%. Ini yang menjadi andalan ekspor kita,” tuturnya.
 
Di samping itu, potensi industri otomotif di Indonesia cukup besar, dengan jumlah produksi mobil yang mencapai 1,34 juta unit atau senilai USD13,76 miliar sepanjang tahun 2018. Saat ini, empat perusahaan otomotif besar telah menjadikan Indonesia sebagai rantai pasok global.
 
“Dalam waktu dekat, ada beberapa principal otomotif lagi yang bergabung dan akan menjadikan Indonesia sebagai hub manufaktur otomotif di wilayah Asia,” imbuhnya. Hal tersebut akan menggenjot kinerja industri otomotif, sehingga mampu memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. “Apalagi, industri ini menyerap tenaga kerja yang banyak, lebih dari satu juta orang,” ujar Airlangga.
 
Oleh karena itu, industri otomotif terpilih menjadi bagian dari lima sektor manufaktur andalan dalam implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0. Selain mendapat prioritas pengembangan untuk lebih berdaya saing global, pemerintah juga mendorong industri otomotif siap memasuki era industri 4.0.“Di dalam roadmap tersebut, ditargetkan pada tahun 2030, Indonesia dapat menjadi basis produksi kendaraan bermotor Internal Combustion Engine (ICE) maupun Electrified Vehicle untuk pasar domestik maupun ekspor,” ungkapnya. 
 
Hal ini perlu didukung kemampuan industri dalam negeri, mulai dari memproduksi bahan baku dan komponen utama sampai pada optimalisasi produktivitas sepanjang rantai nilainya.Kemudian, dalam peta jalan pengembangan industri kendaraan nasional, pemerintah menargetkan sebanyak 20% dari total produksi kendaraan baru di Indonesia sudah berteknologi tenaga listrik pada tahun 2025. Ini guna mendukung komitmen Pemerintah Indonesia dapat menurunkan emisi gas rumah kaca (CO2) sebesar 29% pada tahun 2030, sekaligus menjaga kemandirian energi nasional.
 
Menperin menambahkan, pihaknya telah menyiapkan program strategis pengembangan kendaraan emisi karbon rendah atau Low Carbon Emission Vehicle (LCEV). Pengembangan LCEV ini meliputi untuk Kendaran Hemat Energi Harga Terjangkau (LCGC), Electrified Vehicle dan Flexy Engine.Untuk itu, strategi dalam mendukung pengembangan LCEV, di antaranya insentif fiskal berupa tax holiday atau mini tax holiday untuk industri komponen utama, seperti industri baterai dan industri motor listrik (magnet dan kumparan motor). Insentif ini diyakini dapat meningkatkan investasi masuk ke Indonesia.
 
Langkah strategis lainnya, melakukan ekstensifikasi pasar ekspor baru melalui negosiasi kerja sama Preferential Tariff Agreement (PTA) serta Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan negara yang memiliki permintaan tinggi untuk kendaraan. “Pemerintah sudah melakukan negosiasi melalui PTA atau CEPA untuk membuka pasar ekspor baru bagi otomotif Indonesia. Yang paling memungkinkan saat ini seperti pasar Australia,” pungkasnya.(BS09)
 
T#g:KemenperinMobilotomotif
  komentar Pembaca
  Berita Terkait
  • satu minggu lalu

    Industri Pengolahan Kopi Semakin Prospektif

    Beritasumut.com-Indonesia memiliki peluang dalam pengembangan industri pengolahan kopi, karena selain punya pasar yang besar, juga didukung dengan

  • 2 minggu lalu

    Pacu Kreativitas dan Inovasi, Kemenperin Dukung Industri Modifikasi Kendaraan

    Beritaumut.com-Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendukung tumbuhnya industri modifikasi kendaraan di dalam negeri. Sebab, industri ini

  • 3 minggu lalu

    Mobil Hemat Energi Karya Mahasiswa Unimed Siap Berlaga di Kontes KMHE di Malang

    Beritasumut.com-Universitas Negeri Medan (Unimed) resmi mengutus Tim mahasiswa Fakultas Teknik (FT) yang tergabung dalam Tim Andaliman untuk mengik

  • satu bulan lalu

    Mobil Esemka Resmi Diluncurkan Presiden Jokowi, Dibandrol dengan Harga Sekitar Rp 110 Juta

    Beritasumut.com-Usai melakukan kunjungan kerja ke Kalimantan Barat, Presiden Joko Widodo (Jokowi) langsung terbang ke Solo, Jawa Tengah, guna meres

  • satu bulan lalu

    Hemat Bahan Bakar, Bus Hino Tangguh Lintasi Rute Berkelok di Jalanan

    Beritasumut.com-Hemat bahan bakar, Hino Bus RN 285 Hino Bus R260 dan Microbus 110SDBL diakui tangguh melintasi rute perjalanan berkelok-kelok dan p

  • Copyright © 2010 - 2019 Portal Berita Sumatera Utara. All Rights Reserved.