Sabtu, 19 Oktober 2019

    Pileg Belum, Tapi Sudah Merasa Menang Pilpres

    Rabu, 26 Maret 2014 02:24:00
    BAGIKAN:
    Kamaluddin Pane. (Ist)
    Oleh: Kamaluddin Pane

    Pilpres belum berlangsung, tetapi strategi pilpres sudah diterapkan pada tahap pileg saat ini. Terkecuali Partai Demokrat, PKS dan PKB yang tetap fokus pada pileg, partai yang lain sudah deklarasi dan massif umumkan capresnya. Karena diyakini oleh para pimpinan partai ini, dengan mengajukan calon presiden sebelum pileg, akan dapat mendongkrak suara partainya. Begitulah kira-kira alur logikanya. Logika demokrasi internal pada pilpres ini pun sudah dihilangkan. Sebut saja, Partai Golkar sedari tahun lalu sudah mengusung ARB sebagai capres, walau diprotes senior. Wiranto main tunjuk diri sendiri sebagai capres dari partainya Hanura, Prabowo sudah menunjuk diri sendiri sejak Tahun 2004 lalu dan terakhir Megawati menunjuk Jokowi.

    Kebalikannya, PD, PKS adalah yang paling realistis. Tanpa tergopoh-gopoh menentukan capres, kedua partai ini masih tetap menunggu hasil pilpres yang sarat yang menentukan atau prolehan 20 persen kursi yang sarat pengajuan capres. Namun, yang luar biasa menurutku adalah, kemampuan partai ini menggunakan Azas Demokrasi Internal, menghargai suara kader, sehingga kandidat capres yang diusung adalah merupakan aspirasi kader dari berbagai pelosok. Kedua partai ini tidak asal main tunjuk tanpa mempertimbangkan suara internal. Secara otomatis, proses internal yang solid akan dapat membantu konsolidasi pemenangan pada pilpres yang akan datang.

    Bagaimana Bila Kalah?

    Ini yang sulit diterima oleh pasangan yang sudah merasa menang. Berdiskusi dengan rekan-rekan yang sudah mendeklarasikan capresnya, kuliat ada keyakinan tinggi, sepertinya esok hari adalah hari pelatikan capresnya. Sebegitu yakinnya, sampai-sampai menghilangkan logika politik itu sendiri: semuanya serba mungkin: mungkin kalah dan mungkin menang. Beberapa pengamat yang pro Prabowo sangat yakin Prabowo menang satu putaran dan pengamat lain yakin menang Jokowi satu putaran. Seakan-akan pilpres hanya milik Prabawo dan Jokowi. Padahal pileg sajapun belum! Ingat itu…. Pileg sajapun belum.

    Masa-masa merasa menang ini, mengingatkan pada masa Pilpres 2004 lalu. Megawati yang berpasangan dengan Hasyim Muzadi masa itu, sudah merasa menang telak. Analisisnya macam macamlah, Megawati incumbent, Hasyim Muzadi punya jaringan NU se Nasional dan akan dapat suara mutlak di Jateng dan Jatim. Pokoknya, kalo diskusi dengan kawan-kawan pendukung Megawati di Jalan Iskandar Muda, Medan, sangat yakin Mega-Hasyim akan menang. Akhirnya, terbukti SBY-JK dapat 60,62 % dan Mega-Hasyim 39, 38%. Ini membuktikan, logika politik rakyat tidak linear. Mereka menentukan sendiri sampai batas waktunya. SBY dengan logikanya, tidak bersikap propokatif dengan membangun logika pasti menang seperti yang dilakukan Megawati.

    Pada Pilpres 2009 lalu, politik merasa menang ini terulang kembali. Dengan cara yang sama, model yang sama, strategi yang sama, Megawati kembali lagi merasa yakin dengan kemenangannya yang berpasangan dengan seorang yang dibangun persepsinya tegas dan nasionalis. Mega akhirnya berpasangan dengan Prabowo Subianto. Masa masa itu, kasus penculikan hilang dari data PDIP, sementara dikantongi dulu dalam rak-rak perpustakaan PDIP di Lenteng Agung. Dengan semangat yang sama, hasil pilpres pun diumumkan dengan Hasil SBY-Boediono 60,80% dan Mega-Prabowo 26, 79%. Buntut dari koalisi ini masih menyisakan persoalan panjang saat ini yang dikenal dengan istilah Perjanjian Batu Tulis. Prabowo dalam hal ini, merasa ditinggal disebabkan poin nomor 7 yang seharusnya mendukung Prabowo pada Pilpres 2014. Namun hal tersebut, dianggap oleh pihak PDIP tidak mengikat. Saling tuduh pun tidak terelakkan. Prabowo memberi cap “pemimpin pembohong” pada setiap kampanyenya. Sementara, isu tuduhan jenderal penculik kembali lagi marak. Lihatlah medsos saat ini, para pendukung PDIP dan Jokowi sangat gencar dengan isu ini. Imbas dari kekalahan Mega ini pun diduga menyebabkan Mega ngambek sampai hari ini.

    Di sela-sela “perang” PDIP dan Gerindra dan keyakinan menang pada pilpres, mereka lupa, SBY tetaplah seorang yang rendah hati, tidak terpancing, dan tidak pula seorang yang angkuh yakin menang. SBY menanggap, rakyatlah yang menentukan, dan suara rakyat tidak dapat dibeli. SBY tetap bekerja pada koridornya sebagai seorang presiden. Walau status incumbent, tetapi SBY tetap bersikap rendah hati dan realistis dalam menghadapi pilpres dan pileg.

    Di tahun politik 2014 ini, politik merasa menang kembali terulang. Berikanlah kesempatan kepada rakyat, jangan merasa menang padahal pemilu sajapun belum. Saya khawatir, bagi yang sudah merasa menang – padahal kalah, nanti ngambek. Dan nuduh pemilu tidak adil, curang dan macam-macam.

    Ingat, suara rakyat bukan suara Tuhan. Kalo suara Tuhan itu tetap dari dulu dalam kitab-kitab suci selalu sama alias tidak berubah dan bagi yang mengubahnya siap-siap diburon rakyat. Tetapi suara rakyat berubah berubah, karena dia/rakyat adalah makhluk hidup atau organisme bumi. (***)
    T#g:pileg
      komentar Pembaca
      Berita Terkait
  • 2 bulan lalu

    Penetapan Calon Anggota DPRD Sumut Terpilih, PDI Perjuangan Raih Kursi Terbanyak

    Beritasumut.com-Sebanyak 100 kursi partai politik dan seratus calon terpilih anggota DPRD Sumut ditetapkan dalam pada Rapat Pleno Terbuka Penetapan

  • 4 bulan lalu

    Presiden Jokowi: Pilpres Sudah Selesai, Mari Kita Berangkulan Kembali

    Beritasumut.com-Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan, masalah Pemilihan Presiden (Pilpres) pada bulan April lalu telah selesai setelah keputusa

  • 5 bulan lalu

    Tata Cara Penyelesaian Perselisihan Hasil Pemilu Legislatif

    Beritasumut.com-Menteri Dalam Negeri (MendagrI Tjahjo Kumolo menjelaskan Tata Cara Penyelesaian Perselisihan Hasil Pemilu Legislatif berdasarkan Un

  • 5 bulan lalu

    Perolehan Kursi Calon Terpilih Belum Ditetapkan KPU

    Beritasumut.com-Beredar di media sosial (medsos) hasil hitung perolehan suara Pemilu 2019 yang dikonversi menjadi kursi untuk sejumlah daerah pemil

  • 5 bulan lalu

    Jokowi-Maruf Ungguli Prabowo-Sandi, PDIP Menangi Pemilu Legislatif

    Beritasumut.com-Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan rekapitulasi hasil penghitungan dan perolehan suara tingkat nasional dari 34 provinsi

  • Copyright © 2010 - 2019 Portal Berita Sumatera Utara. All Rights Reserved.