Keserakahan Salah Satu Faktor Penyebab Terus Beroperasinya Pukat Harimau


Keserakahan Salah Satu Faktor Penyebab Terus Beroperasinya Pukat Harimau
Ist

Pantai Labu, (beritasumut.com) Masih belum sejahteranya kehidupan nelayan di wilayah Sumatera Utara disebabkan banyak faktor, termasuk faktor keserakahan manusia.

Calon Gubernur Effendi MS Simbolon mengatakan, keserakahan manusia itu bisa dilihat dari terus beroperasinya pukat harimau.

Dalam siaran pers yang diterima beritasumut.com, Sabtu (12/01/2013) disebutkan, akibatnya banyak nelayan tradisional yang harus kehilangan tangkapan ikan karena kalah bersaing dengan pukat tersebut.

"Kenapa pukat harimau itu tetap diperbolehkan beroperasi? Ini harus ada ketegasan dari pemerintah mau pun pihak kepolisian untuk melarang ini, karena ini jelas melanggar undang-undang," ujar Effendi ketika berkunjung ke Pantai Labu, Deli Serdang, Sumatera Utara.

Effendi MS Simbolon bahkan menduga, bukan tidak mungkin solar bersubsidi yang harusnya dikonsumsi nelayan tradisional justru dikonsumsi pukat harimau. Karena itu, pihaknya akan mempertanyakan hal ini ke PT Pertamina.

"Bukan tidak mungkin solar yang harusnya diperuntukkan bagi nelayan tradisional justru dimanfaatkan sama pukat harimau itu, kata Effendi MS Simbolon.

Selain menyoroti pengoperasian pukat harimau, Effendi MS Simbolon juga menyoroti kerusakan hutan bakau yang sudah mencapai 90 persen, yang dirilis Badan Lingkungan Hidup Sumatera Utara sekitar dua tahun lalu.

Padahal menurut Effendi MS Simbolon, selain bermanfaat bagi tempat kehidupan biota laut seperti ikan, kepiting, udang mau pun kerang, bakau akan sangat berfungsi sebagai benteng terakhir untuk menahan terjadinya abrasi.

"Kebanyakan kawasan hutan bakau ini beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit. Ini bisa berbahaya kalau terus dibiarkan, karena tanaman sawit tidak akan mampu menahan abrasi," tambah Effendi.

Salah seorang tokoh nelayan di Pantai Labu Pranata mengatakan, selain kesulitan mendapatkan ikan, kehidupan nelayan semakin diperparah dengan beredarnya ikan impor di Sumatera Utara, akibatnya harga ikan yang susah payah mereka dapatkan menjadi murah.

"Ikan impor sekarang banyak masuk ke Sumatera Utara, Pak, kami jadi susah menjual ikan hasil tangkapan kami," keluh Pranata.

Effendi yang berkunjung ke kawasan Pantai Labu bersama Ketua Tim Kampanye ESJA Ruben Tarigan juga mendapat kehormatan dipasangkan baju adat Melayu oleh perwakilan nelayan. Bersama nelayan dan penduduk pantai labu Effendi-pun bernyanyi bersama.

Pemberian baju adat Melayu oleh nelayan ini merupakan sebagai bentuk dukungan para nelayan terhadap Effendi agar menjadi Gubernur Sumut, sehingga bisa membantu kehidupan nelayan di seluruh Sumut. (BS-001)

Tag: