Banjir Medan: Persoalan Klasik di Zaman Modern


Banjir Medan: Persoalan Klasik di Zaman Modern
Google

Medan, (beritasumut.com) Wakil Ketua DPRD Kota Medan Ikrimah Hamidy menyebutkan, permasalahan klasik seperti banjir yang kerap terjadi di Kota Medan sudah demikian kompleks. Selain banyaknya tumpukan sampah di setiap selokan yang menyebabkan penyumbatan, pendangkalan sungai dan parit akibat sendimentasi serta hilangnya daerah tangkapan air seperti sawah, rawa dan hutan bakau, turut andil melengkapi persoalan yang dirasakan masyarakat di kala hujan deras mengguyur kota ini.

Ikrimah menilai, dengan semakin berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH) yang ada saat ini, serta koneksi antara drainase tidak terhubung dengan baik, akhirnya membuat genangan air di ruas-ruas jalan kota, baik protokol maupun non protokol menjadi tidak terelakkan.

"Ini persoalan klasik di zaman modern," ujar Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) inidi Medan, Kamis (10/10/2013).

Dia menyarankan Pemerintah Kota Medan sebaiknya melakukan pemetaan ulang terhadap kondisi drainase peninggalan Belanda dengan zaman sekarang ini. Sehingga hal itu dapat menjadi acuan dalam pembangunan kota ini kedepannya.  

"Tidak ada salahnya bila peta drainase peninggalan Belanda itu dipelajari kembali. Apalagi melihat kondisi tata kota dan tata bangunan di Medan saat ini semakin amburadul. Meskipun secara pembangunan terlihat maju, tapi kalau dampak pembangunannya tidak dipikirkan juga, maka beginilah kejadiannya," ungkapnya.

Dengan demikian, lanjut Ikrimah, walikota akan dapat mensinergikan semua potensi aparatur di jajaran Pemko Medan untuk dapat mengatasi masalah banjir ini. 

"Mulai dari tingkat kepala lingkungan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), hingga Dinas Kebersihan sampai dengan tata kota dapat disinergikan, untuk mengatasi persoalan ini. Karena dengan pemetaan ulang yang dilakukan tersebut, pangkal permasalahan akan diketahui dan ke depan dampak negatif terhadap pesatnya pembangunan pun bisa diminimalisir," tambahnya.  

Selain itu, faktor lainnya, menurut Ikrimah, kesadaran masyarakat kota Medan untuk membuang sampah pada tempatnya juga masih rendah. Karena, sering kali aliran parit tidak mengalir akibat banyaknya tumpukkan sampah didalamnya.

"Kita harus akui bahwa kesadaran masyarakat kota Medan untuk tidak membuang sampah sembarangan masih tergolong rendah. Padahal, aturan tentang hal itu sudah jelas dan mestinya harus ditegakkan, agar masyarakat memahami sanksi apa yang akan diterima ketika melanggar peraturan," ujar Ikrimah seraya berharap masyarakat menyadari kaitan antara kebersihan dengan keimanan akibat perilaku tidak peduli terhadap sampah adalah cermin dari keimanan itu sendiri.

Imbauan senada juga diutarakan Wakil Ketua DPRD Medan lainnya, Sabar S Sitepu, yang mengatakan agar masyarakat Kota Medan dapat membiasakan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan. Upaya antisipasi banjir yang dilakukan Pemko Medan dengan pengorekan parit akan terasa sia-sia, apabila tidak dibarengi sosialisasi yang intens kepada masyarakat.

"Jika pengorekan parit tanpa diikuti sosialisasi kepada masyarakat, maka tidak akan timbul rasa kesadaran untuk tidak membuang sampah ke dalam parit, saya yakin parit akan dipenuhi sampah lagi," ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Walikota Medan Drs Dzulmi Eldin MSi menjelaskan, pengorekan parit dilakukan untuk mengembalikan fungsi parit maupun drainase. Parit dan drainase selama ini tidak berfungsi akibat mengalami sendimentasi dan dipenuhi sampah rumah tangga menyebabkan banjir. Karena itulah Eldin pun berharap setelah pengorekan dilakukan, warga tidak membuang sampah ke parit lagi.

"Saya minta warga untuk saling menjaga dan mengingatkan saudara-saudaranya agar tidak membuang sampah ke dalam parit lagi. Sebab, kita yang langsung merasakan efek yang ditimbulkan akibat membuang sampah sembarangan tersebut. Apapun upaya yang kita lakukan jika tidak mendapat dukungan dari warga tentunya tidak akan membuahkan hasil. Jadi antara pemerintah dan masyarakat harus saling bersinergi," ujar Eldin. (BS-001)

Tag:Banjir