Ekonomi

TPID Harus Bekerja Keras Tekan Inflasi Akibat Penurunan Harga BBM


TPID Harus Bekerja Keras Tekan Inflasi Akibat Penurunan Harga BBM
Ilustrasi. (Google)
Beritasumut.com Penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan di awal Januari ini belum serta merta mengubah atau menurunkan harga kebutuhan pokok.

Hal tersebut dikatakan Ekonom Sumatera Utara (Sumut) Gunawan Benjamin di Medan, Selasa (6/1/2015).

Diperlukan penyesuaian lanjutan khususnya terkait dengan barang-barang yang diatur harganya.

Dengan begitu, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) harus bekerja lebih keras lagi. Sehingga harga barang di Sumut bisa dikatakan normal sesuai dengan tingkat keseimbangan yang baru.

Bila sebelumnya TPID berkomitmen untuk menjaga laju tekanan inflasi tidak melampaui batas yang diasumsikan. Maka saat ini TPID harus bekerja keras untuk menekan inflasi akibat penurunan harga BBM.

Gunawan melanjutkan, dalam membuktikan apakah nantinya penurunan harga BBM berkorelasi positif terhadap penurunan harga kebutuhan hidup, maka perlu dilihat realisasi inflasi di Januari 2015 ini.

Sebelumnya inflasi setelah kenaikan harga BBM sebesar Rp2.000 telah menambah beban inflasi dalam rentang 2,7 persen hingga 3 persen.

"Harga Bensin diturunkan sebesar Rp900 per liternya menjadi Rp7.600, sementara itu, harga solar hanya turun 250 Rupiah saja. Solar merupakan bahan bakar yang digunakan oleh banyak armada yang banyak mengangkut barang kebutuhan masyarakat. Solar menjadi komponen penting pembentukan harga terkait dengan distribusi barang. Hal ini tentunya akan membuat ekspektasi terhadap laju tekanan inflasi tidak seragam," ujarnya.

Menurutnya, bila Januari ini laju tekanan inflasi lebih tinggi dari 0,2 persen, maka bisa disimpulkan bahwa harga barang relatif tertahan tinggi meskipun terjadi penurunan harga BBM.

Memang dampak penurunan harganya terkadang tidak instan. Terkadang ekspektasinya bisa saja terjadi dalam 2 bulan. Untuk itu kita lihat laju inflasi selama dua bulan ke depan, pungkasnya. (BS-001)

Tag:TPID