Senin, 16 September 2019

Niesya Harahap, Lestarikan Warisan Leluhur Nusantara

Senin, 16 Mei 2016 11:45:00
BAGIKAN:
beritasumut.com/ist
Niesya Harahap dalam salah satu penampilannya membawakan seni tradisional.

Beritasumut.com-Kesenian tradisional dan kesenian modern merupakan dua hal yang berlawanan arah. Seni tradisional seringkali dianggap tidak menarik dan terlalu "kolot" jika dibandingkan dengan seni modern yang hadir di era globalisasi ini.

Kesenian tradisional semakin ditinggalkan dan dipandang sebelah mata, karena tidak dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman bahkan sulit kita temui generasi muda yang masih memberikan perhatiannya terhadap pelestarian dari warisan leluhur Nusantara ini.

Namun tidak bagi Niesya Harahap, mahasiswi Ilmu Psikologi Universitas Sumatera Utara (USU) kelahiran Medan 22 Januari 1996 ini telah mengawali karir di bidang seni sejak usia 13 tahun. Berbagai prestasi yang telah diukir oleh Niesya Harahap menyadarkan masyarakat akan warisan leluhur yang sedang menunggu untuk diserahkan kepada generasi penerus.

Meski kiprahnya di bidang seni tradisional kurang mendapat perhatian dari masyarakat, khususnya generasi muda, namun  prestasi yang dimiliki alumni SMP 1 Harapan Medan dan SMA 2 Harapan Medan ini cukup bergengsi untuk usianya yang masih terbilang cukup muda. Bahkan, ia tidak hanya menguasai satu bidang kesenian saja, namun menguasai 3 bidang sekaligus, yaitu seni tari, seni musik dan bidang tarik suara. Ini menjadi nilai positif dari Niesya sebagai generasi muda yang prihatin terhadap keberlangsungan tradisi Nusantara di masyarakat.

Sejumlah bukti keseriusannya untuk melestarikan budaya, Niesya telah memebrikan penampilan terbaiknya dalm berbagai even di dalam maupun luar negeri. Di antaranya menjadi pengisi acara di Kuching, Sarawak Malaysia dalam acara festival tari antar bangsa, memainkan gamelan Jawa di New Zealand, ikut serta dalam konser choral drama Svara Sacra yang diselenggarakan di Medan, Jakarta hingga kota kembang, Bandung, bahkan menjadi Guest of Honor di acara “Frankfurt Book Fair" yang diselenggarakan di Eropa untuk menampilan tarian tortor Mataniari yang merupakan tarian tradisional dari Etnis Batak.

Tentu saja tidak semua orang di usianya memiliki pengalaman yang besar seperti Niesya dalam memperjuangkan kelangsungan dari kesenian tradisional. Selain acara acara besar, ia juga aktif dalam kegiatan yang dilakukan di Universitas Sumatera Utara, mulai dari kesempatan untuk menari di acara Dies Natalis USU, memainkan ensamble angklung pada acara yang diadakan Fakultas Psikologi USU, hingga ikut dalam forum koordinasi pencegahan terorisme di bawah koordinasi dosen Fakultas Psikologi USU.(POS5 Publisher)

T#g:Budaya
  komentar Pembaca
  Berita Terkait
  • 2 minggu lalu

    Walikota Medan Buka Festival Multi Etnis

    Beritasumut.com-Walikota Medan Drs HT Dzulmi Eldin S MSi MH dihadiri Wakil Walikota Medan, Ir H Akhyar Nasution MSi membuka Festival Multi Etnis Ko

  • 3 minggu lalu

    Walikota: Perlu Usaha dan Upaya Keras Lestarikan Seni Serta Budaya

    Beritasumut.com-Puncak Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XVII Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (PERDOSKI) 2019 dimeriahkan dengan Malam

  • satu bulan lalu

    Kementerian Agraria dan Tata Ruang RI Gelar FGD Cagar Budaya, Pemko Medan Berikan Apresiasi

    Beritasumut.com-Pemerintah Kota Medan mengapresiasi FGD tentang Cagar Budaya yang digelar Kementerian Agraria dan Tata Ruang (Badan Pertanahan Nasi

  • satu bulan lalu

    Gubernur Lepas Karnaval Budaya di Festival Pesona Lokal

    Beritasumut.com–Beraneka ragam busana tradisional dari berbagai etnis yang ada di Sumatera Utara (Sumut) tampil memukau di Karnaval Budaya, F

  • 2 bulan lalu

    Kembangkan Nilai Kearifan Lokal, Pemkab Deli Serdang Kerjasama dengan FIB USU

    Beritasumut.com-Guna mengembangkan nilai kearifan lokal, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deli Serdang melakukan kerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya

  • Copyright © 2010 - 2019 Portal Berita Sumatera Utara. All Rights Reserved.